Perkenalan


“Manusia adalah musuh bagi semua yang tidak dikenalinya”

Demikianlah bunyi sebuah pepatah arab yang kudapat dari kiaiku ketika aku masih menjadi santri di gontor. Memang demikianlah sifat asli manusia. Selama dia tidak tahu tentang sesuatu, maka dia akan memusuhinya. Andaikata datang ke bumi ini sebuah pesawat ruang angkasa, ya bayangkan saja pesawat itu turun di stadion Gelora Bung Karno, maka tidak disangsikan lagi, segenap angkatan bersenjata dari seluruh dunia akan datang dengan segala kekuatan darat laut dan udaranya, mengelilingi pesawat dari luar angkasa ini. Untuk apa? Tidak ada yang tahu untuk apa. Apakah pesawat itu berniat menghancurkan bumi? Belum tentu. Apakah pesawat ini membawa gas beracun yang akan membuat umat manusia punah? Siapa yang tahu. Begitulah, itu adalah sifat asli manusia yang mungkin kita tidak menyadarinya Ketika kita berhadapan kepada sesuatu yang kita tidak mengenalinya, maka secara naluriah kita akan memusuhinya. Atau paling tidak menyimpan prasangka yang aneh-aneh. Maka inilah manfaat dari perkenalan. Karena setelah perkenalan ini, saya yakin kita akan menembus batas itu. Batas yang membuat kita saling berprasangka. Dan kita akan melangkah ke sebuah pintu baru. Pintu Perkenalan, pintu persahabatan, pintu mutualisme, saling mengisi satu sama lain.

Nama saya Mohammad Izdiyan Muttaqin. Nama yang aneh. ini yang aku fikir ketika aku kecil dulu. Sebuah nama yang tidak biasa, Izdiyan. Selalu saja orang yang mendengar nama ini mengulang pertanyaannya untuk kedua kalinya, "Siapa?". Kejadian ini bukan satu atau dua kali. Beeeerkali-kali. Akhirnya dengan agak males aku mengulang untuk kedua kalinya, pastinya dengan pengucapan yang lebih jelas. Nama ini lebih membuatku malu daripada bangga. Apa sih artinya? inilah yang pernah aku tanyakan kepada ayahku. Beliau adalah seorang dosen Bahasa Arab. Beliau bahkan bisa dibilang merupakan seorang pakar dalam hal memberi nama. Saudara-saudara, kawan, sampai tetangga datang kepada ayahku jauh-jauh, untuk memberikan kepercayaan kepada ayahku agar beliau memberi nama untuk buah hatinya. Jadi dari sini saja kita mestinya tahu, bahwa namaku ini bukan sembarang nama. Karena yang memberikan adalah seorang yang cukup pakar dalam Bahasa Arab, dan cukup disegani dalam masalah memberi nama.

Namaku diambil dari Bahasa Arab. Mohammad, ini nama Nabi kita. yang paling menarik adalah kata Izdiyan. Sebuah kata yang menurut ayahku merupakan kata yang langka. Beliau bahkan menyatakan bahwa di muka bumi ini, cuma satu, cuma aku yang bisa berbangga menggunakan nama ini. Dia diambil dari kata "zain" yang artinya hiasan. Untuk mengetahui lebih dalam tentang perubahan katanya, dari zain menjadi izdiyan, kita perlu belajar lebih dalam tentang ilmu shorf. Aku sendiri bisa memahami kata Izdiyan ini dengan lebih dalam setelah aku duduk di bangku kelas lima, di KMI Gontor, setingkat kelas 2 Aliyah.

Sederhananya, Izdiyan berarti sebuah karya, hasil kerja dari seorang penghias. Bisa juga aku artikan Izdiyan adalah Hiasan, yang bila disambung dengan kata Muttaqin, menjadi hiasan milik orang-orang bertaqwa. Aku semakin bangga dengan namaku ketika aku mengkiaskan, mengumpamakan orang-orang bertakwa dengan sebuah kalung yang indah, maka di kalung yang indah itu, peranku adalah sebagai Mutiaranya. Jika aku mengumpamakan orang-orang bertakwa sebagai sebuah cincin, maka aku adalah batu coral yang berkilau di tengahnya. Singkatnya adalah Hiasan Orang-orang yang bertakwa.

Aku dilahirkan di sebuah perkampungan tepat di belakang Kampus UIN Jakarta. Ayahku adalah seorang Dosen Bahasa Arab di UIN. Ibuku adalah seorang guru Aliyah, MAN 4 Pondok Pinang. Sebenarnya ibuku hendak melahirkan pada pukul 4 pagi, pada tanggal 24 Agustus 1989, namun sang bayi tidak kunjung keluar. Mungkin ketika itu aku masih santai, belum saatnya aku muncul. Aku akhirnya muncul ke dunia bertepatan dengan munculnya matahari di ufuk timur dari perkampunganku, Kampung Utan. Fajar menyambut kelahiranku, semua tertawa melihatku, bayi gemuk dengan kulit agak gelap. Aku terlahir sangat sehat. Bahkan bayi Izdiyan ini lebih besar dari ketiga anak ibuku yang lain, beratku 4 kg. Indonesia pun berbahagia ketika itu. Ternyata kelahiranku disambut oleh munculnya stasiun TV swasta pertama di Indonesia, Rajawali Citra Televisi Indonesia, RCTI. Kebetulan? tidak ada kebetulan di dunia ini saudaraku, semua sudah diatur oleh Yang Maha Tahu. Sebuah ketetapan dariNya, yang akhirnya, pada umur 10 tahun, aku sudah bisa masuk TV. ? Nantilah aku ceritakan.

Bayi izdiyan yang gemuk ini menangis keras. kakinya bergerak-gerak. Dilahirkan dalam fajar baru di hari yang baru, aku pun akhirnya menyadari, bahwa kelahiranku adalah sebuah pertanda. Kelahiranku adalah sebuah petunjuk dari Sang Big Bos. Bertahun-tahun selanjutnya aku baru menyadari hal itu.

Di sebuah perpustakaan sederhana di Kampus Gontor. Aku membaca sebuah Biografi dari Presiden Pertama Indonesia, Presiden Sukarno. Dalam buku itu, Sukarno menceritakan bagaimana ibunya telah memberkatinya sejak kecil.

"Dia (ibunda dari Bung Karno) bangun sebelum matahari terbit dan di dalam kegelapan beranda rumah yang kecil, dia duduk tidak bergerak. tanpa melakukan apa-apa dan tanpa bicara, hanya memandang ke arah timur dan dengan sabar menantikan datangnya fajar

Ketika aku terbangun dan mendekatinya, dia mengulurkan kedua belah tangannya dan meraih badanku ke dalam pelukannya, lalu pelan-pelan mendekap tubuhku ke dadanya. Beberapa saat kemudian dia berkata dengan lembut, "Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena Ibu melahirkanmu di saat fajar menyingsing. Kita orang jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seseorang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan nak, bahwa engkau ini putra sang fajar".

Kata-kata ini membekas dalam hatiku. Walaupun bukan ibuku sendiri yang mengatakannya, namun kata-kata ini membuatku juga berfikir bahwa aku adalah putra sang fajar. Karena aku dilahirkan saat fajar menyingsing. Seorang yang nasibnya telah digariskan sebelumnya. bahkan kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatku.

Aku beruntung dilahirkan dalam keluarga yang cukup harmonis. Ekonomi keluarga kami pun tidak terlalu menyedihkan, karena kedua orang tuaku sudah memiliki pekerjaan tetap, walau gajinya tidak terlalu besar. Aku bisa makan enak, tidur nyenyak, dan mendapatkan pendidikan yang layak. Aku benar-benar bersyukur karena aku dilahirkan dan dibesarkan dalam nuansa islami yang kental. Kami terbiasa shalat berjama'ah dan mengaji setiap selesai shalat maghrib. Ayahku adalah seorang Ustadz di kampungku. Beliau alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Selesai mengabdikan diri dengan mengajar, beliau hijrah ke Jakarta, bergabung bersama kawan satu almamaternya untuk mengajar di Darunnajah, Pondok Modern yang didirikan oleh salah seorang alumni Gontor. Singkat cerita beliau bertemu dengan ibuku, anak seorang dosen di Kampus UIN Jakarta. Yang juga merupakan seorang guru di Madrasah Pembangunan. Singkat cerita cinta pun berlanjut ke pelaminan. Orang tuaku memiliki 4 anak. Yang pertama perempuan, yang kedua laki-laki, dan aku nomor tiga. Adikku yang terakhir nomor empat, juga perempuan.


Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 comments:

  1. muhammad izdiyan,
    blog anda sungguh membuat saya pusing karena banyak bener tulisannya.

    silahkan mampir ke blog saya.
    www.livinmandinar.blogspot.com

    BalasHapus
  2. woi..... presiden.... Kalau Pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi, jangan Lupa oleh-Olehnya. Nasionalisme Dari Negri Kilauan Ilmu Terkemuka. Kami menunggumu jadi Presiden....

    BalasHapus
  3. ahaha....
    iyalah sav, isinya kan curhat2 doang, btw, blog nt isinya jg membuat saya pusing, isinya gambar2 dan teks bahasa inggris, dan kok nggak ada tempat commentnya si?

    BalasHapus
  4. wah... jangan ditungguin lim, dido'ain aja deh....

    BalasHapus