juara 2,

Setelah menyelesaikan pendidikanku di TK Salman. Menjadi ketua geng, berantem, nyanyi-nyanyi bareng, dan berbagai lika-liku kehidupan anak tk lainnya, aku akhirnya bisa bertahan dan menyelesaikan segala problematika yang menyangkut hidup saya di tk, (silakan dibayangkan sendiri problematika anak tk, yg pasti ga kalah kompleks sama yg ada di sinetron).

Lulus dari TK aku kemudian melanjutkan perjalanan akademisku di Madrasah Pembangunan. Madrasah Pembangunan ini letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku. di Ciputat, tepatnya di Komplek dosen UIN Ciputat. Dan sebenarnya masih satu komplek dengan TK Salman, TK ku dulu. Malahan bangunannya bertolak belakang.

Sejak dulu aku memang bukan anak yang super rajin. Tapi walau bagaimana pun, aku juga tidak mau kalah dengan kakak-kakakku dalam hal prestasi belajar. Mungkin boleh aku sedikit bangga, walaupun tidak terlalu rajin, aku pernah beberapa kali masuk area 3 besar di kelas. Itu ketika aku kelas 2 caturwulan ketiga, dan ketika aku kelas 3.

Ketika aku kelas 3, aku bahkan bertahan di posisi 2 selama 3 caturwulan berturut-turut. Aku sampai sekarang kurang tau dengan pasti, apa yang membuatku begitu kuat waktu itu. Dan yang paling membuat aku bingung, adalah tahun selanjutnya. Saat aku duduk di kelas 4. Aku masih izdiyan yang sama. Masih dengan sejarah 3 kali berturut-turut peringkat 2 di kelas. Tapi kelasku saat itu bukan kelas sembarangan. Di sana berkumpul juara-juara kelas satu angkatan, semua dikumpulkan di satu kelas. Mungkin aku tidak mampu beradaptasi, atau mungkin minder. Yang jelas nilaiku menurun drastis saat itu. Aku yang tadinya peringkat 2, menurun jadi peringkat 13. Drastis abis. Tapi kenapa? Yang pasti banyak penyebabnya.

Penyabab yang pertama, yang pasti aku sangat menikmati saat-saat itu. Kelas 4 bertepatan dengan bergulirnya kancah Piala Dunia 1998. Aku saat itu adalah anak berusia 9 tahun yang punya satu cita-cita. Iya, Cuma satu, jadi pemain bola. Aku benar-benar terpaku pada cita-cita itu. Setiap sore aku dan kawan-kawanku berlatih sepak bola di lapangan sekitar UIN. Aku yang kala itu masih kelas 4 SD, sudah punya klub sepakbola sendiri, PSBJ namanya,

Persatuan Sepak Bola Junior. Seragam kami dari kaos bekas tidak terpakai milik ibuku, yang katanya seragam ibu-ibu arisan, tapi tidak jadi dipakai. Akhirnya kaos itu kami cat dengan nomor-nomor favorit kami. Yang menyablon juga bukan sablon professional, kami meminta bantuan tetangga kami yang pandai melukis, Om Komet namanya, perantau dari Kalimantan. Syukri, anak rantau asal padang ini memilih nomor 9. Kakakku, Aaf, memilih nomor 1, dia kiper andalan kami. Dadi, kapten kita memakai nomor 10. Aku sendiri memilih nomor 8, sesuai dengan pemain favoritku, Conte, kapten tim Juventus. Saat-saat itu benar-benar saat yang sangat indah. Tim kami pun punya bendera sendiri, benderanya dari kain yang disablon kakekku sendiri yang mengeluarkan uang untuk membuat bendera kebanggan kami ini. Sepak bola menjadi hidupku di sekolah maupun di luar sekolah.

Selain itu, aku juga kadang berfikir, sampai sekarang bahkan, kenapa nilaiku ketika itu bisa anjlok begitu rupa? Dan akhirnya aku menyimpulkan, bahwa saat itu, dan saat-saat selanjutnya, aku benar-benar tidak punya motivasi yang membuatku benar-benar menginginkan peringkat papan atas di kelas.

Dan akhirnya aku sadar. Bahwa saat aku terakhir mendapat ranking 2 di kelas 3 dulu. Itu adalah saat terakhir di mana ibuku menjanjikan aku komik dragonball. Ya itu dia. Kenapa ibuku tidak menjanjikan aku komik dragonball lagi ketika aku kelas 4 ya…. Berarti bukan salahku sendiri kan. Ternyata prestasiku saat itu adalah prestasi seorang anak yang sangat ingin memiliki komik, eheheh….. Tapi dengan begini aku juga jadi sadar, bahwa aku sebenernya masih bisa mendapat nilai tinggi, asal ada yang jadi motivasi. Begitu juga anda.

Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar