Madrasah Pembangunan Almamaterku


















Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Aku sekarang duduk di Auditorium Universitas Terbuka Pondok Cabe. Kali ini dalam acara yudisium kelulusanku di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan. Ruangan tertata rapih dan acara pun berjalan begitu rapih. Di Tribun penonton bagian atas, aku bisa melihat orang tua para siswa duduk melihat ke arah anak-anaknya yang duduk di tempat duduk utama di bagian bawah yang menghadap panggung. Aku pun sejenak mengilas balik kehidupanku di Tsanawiyah dulu.

Banyak kisah aku lalui di almamaterku ini. Aku belajar berenang dari guru olahragaku, Pak Syaiful. Dari tidak tahu apa-apa tentang berenang, sampai aku cukup mahir berenang dalam berbagai gaya. Aku terharu mengingat pengorbanan beliau memaksa kami untuk latihan setiap minggu. Pengorbanan waktu dan materinya akan selalu kukenang sampai sekarang. Bu Rini juga adalah sosok yang tidak akan kulupa, sifat keibuannya akan selalu teringat di hati para siswanya, Bu Rini selalu memaksa kami memotong kuku kami, dan menjaga rambut kami tetap pendek. Pak Subhan guru Fisikaku juga tidak kalah mengagumkan, beliau cerdas bukan main, pelajaran fisika yang rumit menjadi begitu simpel dan ringan di tangannya, membuatku juga jatuh cinta kepada fisika. Pak Miran guru sejarahku juga menjadi perantara yang membuatku jatuh cinta kepada sejarah, maafku tak lupa kuucapkan dalam hatiku kepada guru-guruku karena beberapa kali mengakali mereka dalam ulangan-ulangan dengan contekan-contekan, kenakalan di masa muda yang bodoh.

Aku lulus akhirnya. Nilai UAN-ku adalah yang tertinggi kedua di angkatan, meskipun aku tidak masuk lima besar dalam urutan nilai UAS, yang merupakan syarat mutlak untuk menerima anugrah "At-Tanmimi". Anugerah bergengsi yang sangat terhormat. Peraihnya dipanggil ke depan panggung, menerima penghargaan langsung dari direktur sekolah kami. Tapi aku memang merasa tidak pantas menerima penghargaan itu, aku cukup senang melihat kawan-kawan sekelasku mewakili kami menerima penghargaan itu, ya, mereka semua dari kelasku karena kami berkumpul di kelas 3A. Tempat anak-anak dengan prestasi terbaik di angkatan dikumpulkan.

Aku pun mengenang masa-masa mudaku. Menembak seorang siswi, ditolak, dan kapok menembak lagi. Masih ingat anak perempuan yang kulihat saat MOS dulu? Dia akhirnya jadi kawan sekelasku di kelas 3. Rasa indah itu kubiarkan tumbuh di hatiku. Entah kenapa aku yakin aku akan ditolak juga, tapi aku tidak sudi merasakan patah hati untuk kedua kalinya, tidak untuk saat ini. Sampai hari terakhir kelulusan itu, aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku, kecuali kepada kawan terdekatku, Aditya.

Aditya adalah teman terdekatku yang tidak ada duanya. Dia dan aku seperti pasangan dwitunggal yang tidak terpisahkan dan tidak terkalahkan. Aku berbagi dengan Aditya tentang banyak hal, kami bertualang bersama, tertawa dan bercanda bersama, bahkan berkali-kali aku main ke rumahnya dan kami pun tidur di kasur yang sama. Aditya seperti saudaraku yang dilahirkan dari ibu yang berbeda. Benarlah kata-kata penyair arab dalam pepatahnya, "Kebanyakan saudara, tidak dilahirkan dari satu Ibu".

Aku bukan orang paling pintar di kelasku, tapi aku menolak untuk menjadi orang rata-rata. Aku selalu berjuang membuat namaku masuk dalam urutan sepuluh besar. Paling tidak itu membuatku bisa berbangga duduk di bangku kelas unggulan. Menjaga nama baikku dan orang tuaku pastinya. Walaupun bukan yang terbaik dalam masalah nilai, aku bukan pula yang terburuk. Pepatah arab berkata "Khoirul Umuri awsathuha", sebaik-baik hal adalah pertengahannya, begitulah kira-kira.
Aku beberapa kali juga mengadakan perlombaan catur di kelasku. Menjadi ketua kelas, dan menyusun pemerintahan dengan kabinet yang aku pilih sendiri. Kelas 3A menjadi begitu berkesan di antara kelas-kelasku yang lainnya. Aku rasa begitu juga yang dirasakan kawan-kawanku. Kami lebih banyak merasakan pengalaman bersama. Pak Darul diangkat menjadi Kepala Sekolah kami yang baru. Beliau mengadakan beberapa perubahan yang menurutku sangat baik. Meja dan bangku kelas yang dari kayu diganti dengan kursi-kursi bermeja yang bisa dilipat, sehingga ruang kelas bisa berubah menjadi aula tempat berkumpul dan tempat shalat ketika dibutuhkan. Para siswa juga harus membuka sepatunya ketika memasuk ruang kelas, sehingga kelas tetap dalam keadaan bersih suci dan layak untuk tempat shalat.
Kami datang ke kelas setiap pagi dan bersama-sama melaksanakan shalat dhuha. Kemudian dilanjutkan dengan membaca juz 'amma bersama-sama. Setelah kelas usai, kami melaksanakan shalat zhuhur berjama'ah di kelas masing-masing. Indah sekali. Melalui hari demi hari bersama kawan sekelasku. Kadang kusempatkan mataku melirik wajah-wajah para siswi berkerudung yang terlihat semakin cantik ketika mereka membaca surat-surat juz 'amma. Setelah itu salah satu dari siswa maju ke hadapan kawan-kawannya untuk memberikan sedikit pengetahuan agama untuk dibagi kepada yang lainnya, seperti kuliah tujuh menit yang biasa disingkat dengan "kultum". Sekarang semua sudah berlalu. Semua telah menjadi kenangan yang akan selalu kami kenang hingga kami tua nanti.

Aku tersadar dari lamunanku ketika kami para siswa dikomandokan berdiri dan naik ke atas panggung, kami dikalungi medali yang menandakan kami telah menjadi alumni dan kemudian kami mencium tangan guru-guru kami. Aku bersalaman dengan guru-guruku. Aku sempat menyelipkan sebuah jeruk ke tangan Pak Syukri, guru Bahasa Inggrisku. Pak Syukri tertawa melihat tingkahku, dia pun mengusap rambutku dan tersenyum kepadaku. Aku selalu suka Pak Syukri. Beliau mengajar kami dengan penuh penjiwaan, aku sering berkomunikasi bersama Pak Syukri dengan Bahasa Inggrisku yang pas-pasan hasil menonton film-film Hollywood dan Hongkong. Meskipun aku bukan bintang kelas seperti yang pernah aku bilang sebelum ini, tapi untuk dua bahasa asing yang diajarkan di kelasku, Bahasa Arab dan Inggris, aku cuma mau nilai 9 tertulis di raportku, dan akhirnya itu yang selalu terjadi. Yang membuatku jadi murid kesayangan guru Bahasa Arab dan Bahasa Inggrisku. Acara pun selesai, kami akhirnya kembali kepada orang tua kami masing-masing
Akhirnya aku pulang bersama ibu dan ayahku. Kami tidak naik mobil seperti kawan-kawanku yang lain yang rata-rata kalangan menengah ke atas. Beruntung ayahku adalah seorang dosen di UIN Jakarta, ini membuatku bisa menikmati pendidikan di Madrasah Pembangunan UIN dengan biaya yang lebih murah dibanding kawan-kawanku yang lain. Uang masuk dan uang sekolah bulananku mendapat potongan beberapa persen. Ketika kawan-kawanku melihat perbedaan itu mereka pun protes kepadaku, "lho kok, bayaran lo segitu si?" Dengan penuh kerendahan hati aku menjawab singkat, "Maklum, anak berprestasi". Mereka pun merengut di belakangku. Aku pun tersenyum menang dan terbahak-bahak dalam hatiku.
Aku, Ibuku dan ayahku kemudian berjalan keluar ruang auditorium, lalu aku naik vespa putih tua warisan kakekku, sebuah vespa edisi sprint keluaran tahun 1976 yang masih kami manfaatkan hingga tahun itu, tahun 2004. Dan ayahku naik motor honda milik Omku, Om Anam. Ibuku duduk di belakang ayahku. Kami pun pulang kembali ke rumah kami. Satu masa telah kulewati, sekarang aku sendiri yang harus memilih, ke mana aku akan melanjutkan pendidikanku

Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar