Sejarah Al-Azhar Part III

al-Azhar dari atas, menara-menaranya yang beragam bentuk adalah peninggalan setiap zaman yang telah dilalui masjid legendaris ini, arsitektur al-Azhar adalah kombinasi dari berbagai aroma, Fathimiy, Ayyubi, Mamluki, Usmani, dan Mesir Modern

Al-AZHAR DI MASA DAULAH MAMLUKIYYAH

                Daulah mamlukiyyah terbagi dalam dua periode:
  1. Periode Daulah Mamalik Bahriyyah dari tahun 657 H dan berakhir pada 784 H/1382 M
  2. Periode Daulah Mamalik Syaraksah dari tahun 784 H-923 H/1382 M-1517 M

             Lucu dan agak menarik kalau kita melihat sejarah Daulah Mamlukiyyah. Sejarah ternyata bisa berubah begitu drastis. Daulah Ayyubiyah yang pada awalnya didukung dan diperkuat oleh budak-budak belian dari negeri Turki dan sekitarnya akhirnya bisa berbalik dikuasai dan diperintah budak-budak beliannya sendiri. Ya memang demikian adanya, mamluk adalah sebutan budak dalam Bahasa Arab yang menandakan bahwa Daulah Mamlukiyyah adalah masa yang saya sebut sebagai puncak prestasi dari para budak. Sebuah contoh nyata yang dicatat oleh sejarah bahwa dalam islam, dan pada dunia nyata pada umumnya, seorang budak pun boleh memimpin manakala dia sanggup dan pantas untuk itu. Sebuah perwujudan kebenaran ayat Allah “Allah memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki”.

Pada awalnya sebenarnya Daulah ini terbentuk pada tahun 648 H. Rajanya yang pertama bernama ‘Izzuddin Aybak At-Turkmeni yang menikah dengan Syajarotu ad-Daar, mantan istri Turonsyah (Raja Daulah Ayyubiyyah yang terakhir). Sultan ‘Izzuddin kemudian terbunuh pada tahun 655 H dan digantikan oleh anaknya al-Manshur yang masih kecil dan kemudian kekuasaannya diserahkan kepada Saifuddin Qothz. Kemudian pada tahun 657 H Saifuddin Qothz mengumumkan kekuasaannya dan mencopot al-Manshur dari kekuasaan. Dan dialah yang dianggap sebagai pendiri yang sebenarnya dari Daulah Mamlukiyyah.

              Di masa Qothz inilah Daulah Abbasyiyyah kehilangan wibawanya di tangan Pasukan Mongol, pada tahun 656 H Baghdad akhirnya ditaklukkan. Jatuhnya Baghdad di tangan Mongol membuat dunia keilmuwan islam di kota seribu satu malam itu tenggelam. Para Ulama dan Pakar-pakar islam yang berhasil menyelamatkan diri pun hijrah mencari tempat berlindung dari serangan Mongol yang beringas itu. Pasukan mongol pun bergerak ke arah barat menuju Mesir. Namun hebatnya Daulah Mamlukiyah saat itu tidak mampu ditembus oleh Pasukan Mongol. Pasukan yang terkenal ganas ini pun takhluk dalam pertempuran dengan Pasukan Daulah Mamlukiyah yang ketika itu berada di bawah pimpinan Saifuddin Qothz, perang itu terjadi di ‘Ain Jalut, Palestina. Kemenangan Daulah Mamlukiyah yang berpusat di Kairo ini lantas menjadi kabar gembira bagi para ulama dan pelajar. Berbondong-bondong pakar Bahasa Arab, fiqih, Hadits, dan beragam cabang ilmu lainnya datang ke Ibu Kota Daulah Mamlukiyah mencari naungan yang aman untuk berteduh dan mengembangkan keilmuwannya. Masjid al-Azhar pun resmi dibuka kembali untuk shalat jum’at pada masa kepemimpinan Raja az-Zhohir Baybers, dan peran vitalnya dalam bidang pendidikan pun kembali diaktifkan.

                Gerakan sastra dan keilmuan mencapai masa kejayaan pada akhir abad ke delapan sampai awal abad kesembilan Hijriyah. Al-Azhar pada saat itu telah menjadi ka’bah keilmuan islam pada masa itu. Ulama-ulama dan para asatidz mewarnai al-Azhar yang didatangi oleh pelajar baik lokal maupun mancanegara. Kebesaran al-Azhar tergambar dari jumlah siswa dan alumninya yang begitu banyak. Fasilitas-fasilitas pun semakin dilengkapi untuk memudahkan para pelajar yang datang dalam jumlah cukup besar. Maka semakin besarlah jumlah halaqoh-halaqoh di Masjid al-Azhar, semakin beragam pula bidang-bidang kajian yang ditekuni. Dan al-Azhar semakin mengokohkan posisinya yang tidak terbantahkan sebagai Ka’bah para ilmuwan dan pelajar muslim di Dunia Islam secara keseluruhan.

                Maka sejak abad ke delapan Hijriyah, di bawah naungan Daulah Mamlukiyah  al-Azhar seolah memegang tampuk kepemimpinan keilmuan, pemikiran, dan peradaban di Dunia Islam. Terhitung sejak jatuhnya Baghdad sampai saat ini, terutama setelah runtuhnya peradaban islam di Andalus.

               Di masa Daulah Mamlukiyah inilah Para Ulama hidup makmur dan mendapat wibawa dan kemuliaan yang layak dari para penguasa. Wibawa para ulama begitu terasa sampai mampu mempengaruhi para penguasa pada saat itu. Masa-masa ini disebut-sebut sebagai masa keemasan al-Azhar. Di mana Al-Azhar mencapai puncak kebesarannya melampaui seluruh masa sebelumnya. Siswa berdatangan dari berbagai penjuru dunia, proses belajar mengajar berlangsung ramai, dan Masjid al-Azhar pun mendapatkan perhatian penuh dari penguasa dengan mengadakan berbagai renovasi.

               Diantara Ulama Besar yang muncul di masa ini adalah Syekh ibn ‘Abdu as-Salam Syeikhul Islam seorang alim yang sangat dihormati kala itu, Syekh ‘Izzuddin dari Damaskus juga pernah singgah di Mesir pada periode ini dan menjadi tamu kehormatan di Mesir ketika itu. Ada pula Syekh Jalaluddin as-Sayuthi yang juga memiliki banyak karya-karya penting di berbagai bidang keilmuwan terutama dalam Kaidah-kaidah Bahasa Arab.

          AL-AZHAR DI MASA DAULAH USMANIYAH
                Mesir jatuh ke dalam genggaman Daulah Usmaniyyah pada tahun 923 H yang bertepatan dengan tahun 1512 Masehi. Mesir pun kehilangan kemerdekaannya. Dan al-Azhar dengan pelan tapi pasti mulai memasuki masa kemunduran. Daulah Usmaniyah berhasil memadamkan sinar keilmuwan al-Azhar dan juga kekuatan karakter Mesir pada umumnya dengan membawa buku-buku keilmuwan yang ada di Mesir ke Konstantinopel, ibu kota dari Daulah Usmaniyah. Tidak cukup sampai di situ, bahkan para Ulama yang menonjol di al-Azhar dan di Mesir pada umumnya juga diboyong ke Turki. Maka al-Azhar dan dunia keilmuwannya dengan segala aktifitas akademisnya pun menjadi lesu dan mati suri, seperti raga yang sudah diambil ruhnya.

                Dunia tulis menulis pun ikut mengalami penurunan bersamaan dengan menurunnya alam keilmuwan di al-Azhar. Sedikitnya ulama yang mumpuni di kala itu, dan sedikitnya jumlah buku ilmiah yang tersisa di Mesir, membuat para pengarang kehabisan ide untuk menulis. Alhasil para ilmuwan terpaksa melakukan pengkajian dan menulis buku tentang keterangan-keterangan atau penjelasan-penjelasan daripada karya-karya lama yang sudah ada. Dan lucunya, penjelasan buku-buku lama ini pun dijelaskan kembali oleh ilmuwan yang lainnya, kemudian dijelaskan lagi oleh ilmuwan setelahnya, maka jadilah buku itu buku penjelasan dari penjelasan dari penjelasan. Sebuah keadaan yang menggambarkan betapa stagnansi dan kemonotonan begitu kuat menyelimuti dunia keilmuwan al-Azhar di masa ini.

                Dan lagi-lagi ini disebabkan hijrahnya para ulama-ulama ke Konstantinopel. Pemerintah Turki Usmani juga memindahkan buku-buku yang terdapat di masjid-masjid, madrasah-madrasah yang ada di Mesir, dan membawa semua harta keilmuwan itu ke perpustakaan Ibu Kota di Turki. Dan buku-buku berharga itu tetap berada di Istambul bahkan sampai hari ini, di antaranya buku asli tulisan tangan karya para ulama populer semisal al-Maqrizi, as-Sayuti, as-Sakhowi, ibn Iyyas, yang tidak dikembalikan lagi kepada Mesir sebagai pemilik aslinya.

                Akan tetapi al-Azhar sebagai institusi dan lembaga pendidikan tidak berhenti memainkan peranannya yang penting. Para pelajar tetap saja berdatangan dari berbagai daerah. Al-Azhar pun menjadi tempat berkonsultasi dari para penguasa di kala mereka menghadapi masalah dengan penduduk asli.

                Pada akhirnya al-Azhar memainkan peranan penting sebagai penjaga peradaban umat islam dan warisan leluhurnya berupa ilmu pengetahuan keislaman dan yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga Bahasa Arab dari kerusakan dan menjaganya agar tetap menjadi Bahasa Resmi dan Bahasa Utama di seluruh bumi Mesir. Walaupun di kala itu Bahasa Turki “sang penakluk” sedikit demi sedikit ikut meresap ke dalam masyarakat, namun al-Azhar tetap berhasil membuat Bahasa Arab tetap terjaga keasliannya, dan menjaga tradisi penggunaan Bahasa Fusha dalam khotbah-khotbah jum’at dan sebagai bahasa pengantar dalam setiap pengajaran dan perkuliahan. Inilah manfaat besar yang masih bisa kita rasakan sampai sekarang sebagai wujud nyata dari peran penting al-Azhar. Demikianlah al-Azhar berhasil bertahan dan mempertahankan warisan keilmuwan umat islam di masa-masa kegelapan yang sulit tersebut.

                     Para siswa juga cukup banyak yang belajar di al-Azhar. Mereka saat itu belajar dan tinggal di “arwiqoh” jama’nya “ruwwaq”, atau ruangan-ruangan yang di dalamnya terdapat kotak-kotak dan lemari tempat menyimpan peralatan, pakaian, dan buku-buku mereka. Mereka tinggal di dalamnya dan mengikuti pelajaran setiap harinya. Kebanyakan arwiqoh-arwiqoh ini dinamakan sesuai dengan nama daerah para siswa, ada aruqoh al-fayumi, at-Turkiy, bahkan al-jawi yang dimaksudkan dengan siswa dari nusantara dan sekitarnya.
Muncul pula pada masa ini sejumlah besar Ulama, Penyair, dan sastrawan. Diantaranya Syihab al-Khofaji yang meninggal tahun 1069 H, al-Badi’I yang meninggal tahun 1073 H, Abdul Qodir al-Baghdadi yang meninggal tahun 1093 H penulis Khizanatul Adab, dan Sayyid al-Murtadho az-Zubaidy (1145-1205 H) penulis Taj al-‘arus, dan as-Shibyan yang meninggal tahun 1206 H.

                      Diantaranya juga al-Muhibbiy (1061-1111 H) penulis Khulasoh al-Asar fi al-Qorni al-Hadi ‘asyar, as-Sya’rowi sang sufi yang meninggal tahun 973 H, dan Abdullah as-Syabrowi yang meninggal tahun 1172 H, dan ulama-ulama lainnya yang pengaruh dan kary-karyanya mempengaruhi dunia keilmuan di al-Azhar kala itu.
Di masa ini terjadi juga persaingan ketat antar mazhab-mazhab fiqih, yang berakhir dengan dominasi mazhab syafi'i di atas mazhab-mazhab lainnya. Meskipun sampai sekarang keempat mazhab diajarkan di Al-Azhar, namun Masyikhot al-Azhar (Syekh yang memegang kepemimpinan tertinggi al-Azhar) tetap dari kalangan mazhab syafi’i.

                      Al-Azhar sendiri sebenarnya tidak memiliki Syekh sejak pertama dibangun sampai sekitar penghujung abad ke sepuluh hijriyah. Dan kepemimpinan kala itu dipegang oleh para tokoh masyarakat atau pemimpin dari pemerintahan yang selalu meluangkan perhatiannya kepada al-Azhar. Akhirnya pada abad ke sebelas dibuatlah Masyikhot al-Azhar (Syekh yang memegang kepemimpinan tertinggi al-Azhar). Yang disebut-sebut bahwa Syekh al-Azhar dianggap sebagai Syekhul Islam atau pemimpin agama islam di seluruh negeri. Syekh al-Azhar mengatur administrasi di al-Azhar, dan mengurus urusan-urusan penduduknya, menengahi perselisihan antar warganya, serta menentukan gaji mereka.
Yang pertama kali menjadi Syekh al-Azhar adalah al-Imam Muhammad ‘Abdullah al-Khorsyi al-Maliki yang telah berpulang ke rahmatullah tahun 1101 H, setelahnya ada Syekh Muhammad an-Nasyarti yang meninggal tahun 1120 H, setelah ada Syekh Abdul Baqi al-Maliki al-Qolini, dan seterusnya.



Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar