Gontor 2, Penampungan Anak-anak Kesepian

Masjid Gontor 2, Ponorogo
Setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah Pembangunan aku dibawa oleh orang tuaku ke Gontor 2. Gontor 2 berlokasi tidak jauh dari Gontor 1, masih di Kab. Ponorogo, dan hanya berbeda desa. Semua yang datang ke Gontor 2 adalah calon pelajar. Mereka datang dari berbagai daerah di Dunia. Kebanyakan dari Pulau Jawa. Sebagian lagi dari Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi, dan beberapa dari negeri seberang, Malaysia.

Gontor 2 adalah penampungan tempat para calon pelajar dipersiapkan untuk menghadapi ujian masuk Gontor. Saya pribadi melihat komunitas santri di Gontor 2 terbagi menjadi dua, anak-anak lulusan SD dan anak-anak lulusan SMP ke atas. Yang saya maksud ke atas adalah termasuk SMA, MA, dan Kuliah.

Bagiku pribadi, sulit dan beratnya perpisahan dengan orang tua dalam hidupku adalah saat aku masuk ke Pondok Modern Gontor 2 ini. Aku meratapi diriku sendiri yang ditinggal oleh mobil keluargaku. Kakekku, Bapak dan Ibuku, ikut mengantarku ke Pondok ini.

Saya yakin banyak kesan dirasakan oleh semua alumni gontor atau siapa pun yang pernah merasakan pendidikan di Gontor 2. Di Gontor 2 inilah aku mulai belajar untuk hidup sendiri, jauh dari orang tua. Mengurus keuangan sendiri, mencuci, dan bersosialisasi.

Gontor 2 membimbing kami menghadapi 4 mata pelajaran yang diujikan dalam ujian masuk Gontor. Membaca al-Qur'an, Menulis Arab, Berhitung, dan Bahasa Indonesia. Aku melalui dengan cukup lancar dan hampir tidak ada kesulitan.

di Gontor 2 aku bertemu dengan berbagai macam karakter yang baru dalam hidupku. Ustadz-ustadz yang seluruhnya masih muda dan bersemangat. Kawan-kawan yang unik. Ada Irfan Fadli dari Blitar yang suaranya besar dan berbadan bongsor. Ada Cipto dari Banten yang selalu terlihat kalem dan sabar. Ada Anggarda yang selalu membawa tas ajaibnya, berisikan peralatan mandi dan perlengkapan sholat, sehingga dia tidak perlu mondar-mandir kelas-asrama-masjid setiap selesai sekolah pagi. Aku sendiri masih takut-takut dan pemalu waktu itu. Namun apa pun yang terjadi sosialisasi adalah juga merupakan suatu kebutuhan bagi kita untuk bertahan hidup, termasuk bagiku, yang jarang keluar ciputat dan belum pernah mencuci baju sendiri.

Saat itu kita tidak pernah tahu, akan seperti apa kita nanti, 3, 4, sampai 5 tahun ke depan. Gontor memang merupakan suatu sistem pendidikan yang menurut saya pribadi begitu kompleks. Karena kawan-kawanku yang sekamar di Gontor 2 dulu ada yang lulus lancar, ada yang tidak naik kelas, dan bahkan ada yang masih menjadi santri tatkala aku sudah mengajar. Kita harus menyadari, disamakan seperti apa pun lingkungannya, nasib orang memang berbeda-beda.

 Setelah 3 bulan, aku kemudian dikumpulkan bersama ribuan santri lainnya dalam upacara pengumuman kelulusan. Saat itulah aku melihat langsung sosok-sosok Kyai yang mengawal perkembangan Gontor saat itu. Pak KH. Imam Badri, Pak KH Abdullah Syukri, dan Pak KH. Hasan Abdullah. Sosok-sosok yang simpel, namun begitu jelas dalam berbicara, mereka memotivasi kami untuk ikhlas dan sabar dalam menjalani pendidikan ini.

Dan ketika pengumuman dibacakan, kami hanya mendengar, "Lulus Gontor 1, nomor ujian: 1, 3, 5".... dan seterusnya. Pengumuman itu seperti panggilan menuju akhirat, di mana-mana terdengar suara "Alhamdulillah...", dan di pojok pojok aku melihat beberapa santri menangis, sebagian bersujud syukur di karpet yang sudah disediakan panitia, sebagian lagi terduduk menunduk di atas kursi kayu yang sama-sama kami duduki.

Aku sendiri akhirnya lulus di Gontor 1, Gontor Pusat. Aku tidak terlalu berharap dan tidak terlalu pesimis, dan tidak bisa terlalu senang karena melihat beberapa kawanku sedang bersedih. Itulah Gontor 2 dengan berbagai kisahnya, bagiku pribadi Gontor 2 begitu sepi padahal dihuni oleh sekitar 2000 santri. Sepi karena bagi kita umat manusia, dunia memang terasa sangat sepi tanpa keluarga, tanpa orang tua. Namun Gontor 2 memang penting bagi para santri untuk beradaptasi secara akademis, mental, dan disiplin.
Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar