Sejarah Al-Azhar Part I


wilayah kekuasaan Daulah Fathimiyyah (google)
                 MASJID AGUNG KETIGA SETELAH DUA MASJID HAROMAIN

                Judul tersebut diambil dari bait-bait puisi yang ditulis oleh Ahmad Syauqi, seorang ahli Bahasa Arab yang disebut-sebut sebagai Raja Penyair, puisi ini menandakan betapa masjid al-Azhar menempati tempat yang begitu tinggi dan terhormat di Dunia Islam (al-‘Alam al-Islamiy). Terlihat sombong dan berlebihan memang, namun bila kita mau melihat jalan cerita sejarah, dan melihat perkembangan islam di dunia global, maka kita akan melihat kisah fenomenal dari perkembangan sebuah masjid di Benua Afrika yang kemudian berkembang menjadi Institusi Pendidikan Islam terbesar di Dunia Islam yang memiliki cabang di berbagai provinsi di Mesir dan bahkan di berbagai penjuru dunia.

                Bagaimanakah jalan ceritanya Masjid al-Azhar yang kini terkenal dengan menara dengan puncak kembarnya ini kemudian berkembang menjadi Universitas Islam pertama dan tertua yang mampu bertahan dengan kokoh di tengah gelombang globalisasi zaman dengan pemikirannya yang murni sunni dan moderat. Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari Masjid al-Azhar yang antik nan bersejarah ini? Mari kita telusuri jejak-jejak sejarahnya yang begitu menarik!

PONDASI SYI’AH BUATAN DAULAH FATHIMIYAH

                Cerita bermula di kala benih-benih syi’ah yang merupakan pemuja Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak diterima oleh masyarakat islam di Jazirah Arab. Sejarah kemudian mencatat bahwa di masa Daulah Abbasyiyah berkelanalah seorang Punggawa Syi’ah bernama Abu Abdullah asy-Syi’I menuju Afrika bagian utara yang ketika itu sudah ditakhlukkan Daulah Abbasyiah tepatnya di wilayah Maroko sekarang. Abu Abdullah asy-Syi’I kemudian berhasil mempengaruhi masyarakat setempat dengan kemampuan komunikasi yang sedemikian meyakinkan hingga akhirnya dia berhasil menakhlukkan pemerintahan perwakilan Daulah Abbasyiah di daerah tersebut, dan akhirnya dilantik sebagai Amirul Mu’minin, Imam al-Mahdiy, Sang Pemimpin Yang ditunggu-tunggu (910-934M/297-322H).

                Kekuasaan yang baru ini pun dinamakan Daulah Fathimiyah, karena Abu Abdullah asy-Syi’I merupakan keturunan Fatimah az-Zahra, istri sayyidina Ali bin Abi Thalib. Maka muncullah kekuatan politik baru di Dunia Islam yang beraqidah islam syi’ah, terpisah dari Daulah Abbasyiah, dan begitu haus akan kebesaran dan kemakmuran. Berbagai invasi dilakukan oleh Daulah Fathimiyah, Qabilah-Qabilah Arab di Afrika Utara dan suku-suku Barbar berhasil ditakhlukkan dan ditundukkan oleh Daulah Fathimiyah. Bahkan invasi juga dilancarkan ke sekitar laut tengah sampai ditaklukkannya pulau Sicily di selatan Itali. Yang dalam Dunia Islam disebut Shaqliyyah. Invasi juga dilancarkan ke pulau-pulau di sekitar Samudera Atlantik di sebelah barat dari Benua Afrika. Sejak zaman kekuasaan Abu Abdullah asy-Syi’I beberapa pasukan telah dikirim ke Mesir terutama pusat kekuasaannya di Kairo, namun pasukan-pasukan tersebut selalu gagal merebut kekuasaan di negeri itu.

                         Sampai ketika Daulah Fathimiyah dipimpin oleh Khalifah Mu’iz li dinillah (953M/341H), dikirimlah pasukan besar dibawah pimpinan Jauhar as-Shoqli, yang merupakan panglima perang keturunan Itali yang dilahirkan di Shoqli Itali namun telah mendapatkan didikan islam di bawah naungan Daulah Fathimiyah. Panglima Jauhar as-Shoqli inilah yang akhirnya berhasil menaklukkan Mesir.

                       Penaklukkan Mesir dilakukan pada waktu yang tepat, karena Mesir saat itu sedang dalam Chaos setelah meninggalnya Raja Kerajaan Ikhsyidiyah (kerajaan yang didirikan oleh Muhammad bin Thoghij al-Ikhsyidi khalifah perwakilan dari Daulah Abbasyiah). Maka masuklah Mesir ke dalam era baru, era pemerintahan Daulah Fathimiyah. Dan di malam hari setelah penaklukkan Mesir berhasil dilakukan, Jauhar as-Shoqli segera melakukan rencana pembangunan Mesir yang dimulai dengan dibangunnya kota Kairo yang kata aslinya merupakan kata Bahasa Arab “al-Qohiroh”, yang bisa diartikan sebagai  “Penakluk” yang oleh Khalifah Mu’iz li dinillah diproyeksikan sebagai kota masa depan yang akan menaklukkan dunia.

                       Maka selesailah pondasi-pondasi Kairo satu tahun setelah ditaklukkannya Mesir oleh Daulah Fathimiyah (358 H) lengkap dengan pos-pos penting pemerintahannya. Pembangunan Ibu kota baru Daulah Fathimiyah itu kemudian dilanjutkan dengan didirikannya Masjid al-Azhar yang nantinya akan menjadi benteng Syi’ah di Kairo dan pusat pengajaran dan penyebaran ajaran-ajarannya. Sengaja dinamakan “azhar” yang diambil dari kata az-Zahro’, julukan dari Sayyidah Fathimah, yang dari namanya Daulah ini didirikan. Pembangunan Masjid al-Azhar dimulai tahun 359 H, dan akhirnya selesai dan dibuka untuk shalat pertama kali pada Bulan Ramadhan 361 H yang bertepatan dengan Juni-Juli  972 Masehi.
Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar