Sejarah Al-Azhar Part II

di depan Babul Futuh, Salah satu peninggalan Daulah Fathimiyyah








































Masjid al-Azhar sengaja dibangun sebagai pondasi dari sebuah peradaban baru. Daulah Fathimiyah yang merupakan Daulah Islam yang berbasis Syi’ah sangat paham bahwa sebuah Kerajaan yang kokoh haruslah berdiri di atas pondasi peradaban yang bertumpu kepada masjid sebagai pusat keilmuan, pusat kebudayaan, dan pusat komunikasi yang dari situ tersebarlah pengaruh dan kebesasarn suatu Daulah atau Negara.

                Maka pengaruh syi’ah pun ditebarkan di Masjid al-Azhar, para khotib dari Daulah Abbasyiah diberhentikan, Daulah fathimiyah juga melarang pemakaian baju hitam yang merupakan lambang Daulah Abbasyiah dan menyuruh rakyatnya memakai baju putih simbol Daulah Fathimiyah. Azan di seluruh masjid ditambahkan dengan kata-kata “hayya ‘ala khoirul ‘amal”, dan khutbah jum’at diperpanjang dengan shalawat-shalawat khas syi’ah yang diperuntukkan kepada Sayyidina ‘Ali, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husen, dan Sayyidah Fathimah az-Zahro’. Maka dengan demikian berakhirlah hegemoni Daulah Abbasyiah di Mesir, Hijaz, Syam, dan sekitarnya.

                Masjid al-Azhar lantas menjadi pusat keilmuan di masa Daulah Fathimiyah setelah dua masjid besar lainnya, Masjid Amr bin ‘Ash dan Masjid ibn Tolun. Dan menduduki tempat yang terhormat di Dunia Islam saat itu. Sebagai simbol peradaban Syi’ah yang terpandang dan menjadi pusat penyebaran islam khususnya mazhab syi’ah yang menjadi tempat berkunjung para pencari ilmu dari berbagai daerah.

              Masjid al-Azhar juga digunakan sebagai tempat berlangsungnya perkumpulan-perkumpulan penting di masa itu. Baik perkumpulan antara para pembesar Daulah Fathimiyah, maupun perkumpulan antara para Ulama Kerajaan. Perayaan-perayaan hari besar islam pun dilakukan di Masjid al-Azhar sebagai pusat kegiatan masyarakat muslim saat itu.

                Masjid al-Azhar berkembang menjadi institusi pendidikan sedikit demi sedikit. Bersamaan dengan berkembangnya aktifitas pengajaran di Masjid ini yang sebenarnya sudah dimulai dari masa-masa awal berdirinya Masjid al-Azhar. Pada Masa Mu’iz li dinillah, seorang Hakim kepala kerajaan yang bernama Abu Hasan Ali bin Nu’man memulai proses belajar mengajar dengan membacakan buku ringkasan fiqih syi’ah karya ayahnya. Kelas pertama ini dihadiri oleh sekumpulan ulama dan pembesar-pembesar Daulah Fathimiyah. Dan sekumpulan siswa ini akhirnya ditetapkan sebagai murid-murid pertama di Universitas al-Azhar.

                Ya’qub bin Kalis, seorang menteri pada masa kepemimpinan Mu’iz li dinillah dianggap sebagai pelopor pertama yang mencetuskan Masjid al-Azhar sebagai Universitas yang mengajarkan keilmuan dengan jenjang yang terstruktur.

                Ya’qub bin Kalis meminta izin kepada Khalifah Mu’iz li dinillah untuk menugaskan beberapa ulama dan fuqoha untuk menjadi tenaga pengajar tetap di al-Azhar. Disiapkan juga bantuan finansial dari pemerintah yang cukup untuk mereka, dan tidak lupa dibangunkan tempat tempat tinggal yang layak tidak jauh dari Masjid al-Azhar.

                Al-Azhar  mendapat tantangan dari institusi lain pada masa Khalifah al-Hakim. Di mana Sang Khalifah mendirikan Dar el-Hikmah. Tetapi masing-masing institusi memiliki risalah yang berbeda. Di mana al-Azhar terkonsentrasi pada pengajaran agama islam, sedangkan Dar el-Hikmah disamping menyebarkan Mazhab Syi’ah juga mengajarkan berbagai bidang keilmuan lainnya, seperti Bahasa Arab, Falsafah, Matematika, Kedokteran, dan sebagainya.

AL-AZHAR DI MASA DAULAH AYYUBIYAH

                Benarlah pepatah arab yang berbunyi: “laa syai’a illa lahu afah, wa laa syai’a illa lahu muntaha”. Segala sesuatu pasti memiliki cacat, dan segala sesuatu pasti memiliki akhir. Demikian pula dengan Daulah Fathimiyyah yang akhirnya harus mengakhiri dominasinya di Bumi Kinanah. Maka runtuhlah sebuah aktor besar dalam kancah sejarah Dunia Islam, sebuah Dinasti raksasa yang pernah menaklukkan Pulau Sicily di Itali, seluruh Negeri-negeri  Afrika Utara, Syam, Hijaz (mekah dan madinah), bahkan sampai Yaman dengan Kairo sebagai ibu kotanya ini pun tenggelam bersamaan dengan terbitnya era baru, Daulah Ayyubiyah.

                Didirikan di Mesir Tahun 567 Hijriyah atau sekitar 1170 Masehi oleh pendirinya: Sultan Sholahuddin Yusuf bin Ayyub yang lebih terkenal dengan sebutan Sholahuddin al-Ayyubi. Dialah yang berhasil menenggelamkan Daulah Fathimiyyah dan akhirnya membangun Daulah baru dalam pentas politik Dunia Islam saat itu. Namanya menjadi begitu populer di seluruh Dunia Islam menyusul kesuksesannya memimpin Pasukan Islam menghajar Pasukan Sekutu Negara-Negara Eropa dalam perang salib dan akhirnya memukul mundur Pasukan Salib dari wilayah islam. Kepopulerannya bahkan mengalahkan popularitas Pemerintahan Daulah Fathimiyyah. Dan akhirnya dengan mudah Sholahuddin Yusuf bin Ayyub mendapat kepercayaan rakyat untuk membangun sebuah dinasti baru yang akhirnya dinamakan Daulah Ayyubiyyah.

                Maka Sultan Sholahuddin yang beraliran murni sunni dan bermazhab syafi’i pun mengakhiri penyebaran dan doktrin-doktrin dan ajaran Syi’ah di seluruh wilayah kekuasaannya. Masjid al-Azhar pun disegel terlarang untuk khotbah jum’at. Maka jadilah Masjid Besar ini kosong dari sholat jum’at selama hampir satu abad lamanya (567-663 H).     

                Gerakan pendidikan di masa Daulah Ayyubiyah ditandai dengan didirikannya berbagai madrasah di Mesir, Sultan Shalahuddin al-Ayubi hendak mengikuti langkah Raja Zenki di Syam yang mendirikan banyak madrasah di daerah Syam dan helb. Madrasah pertama yang dibangun Daulah Ayubiyah di Mesir adalah Madrasah Nashiriyah, yang terletak bersebelahan dengan Masjid Amr bin ‘Ash. Sultan juga membangun beberapa madrasah yang di dalamnya diajarkan berbagai madzhab fiqih, baik itu Syafi’I, Maliki, maupun Hanbali. Gerakan pembangunan madrasah ini adalah sebuah bentuk usaha pemadaman sinar al-Azhar dan untuk menarik perhatian ulama dan para pelajar dan mengalihkan mereka dari baying-bayang al-Azhar. Gerakan pembangunan madrasah ini pun diikuti oleh penguasa-penguasa setelahnya baik dari Daulah Ayyubiyah, maupun era selanjutnya yaitu Daulah Mamlukiyah.

               Namun berakhirnya masa kepemimpinan Daulah Fathimiyah dan dilarangnya Khotbah Jum’at di Masjid ini pada masa Daulah Ayubiyah tidak menghentikan proses belajar mengajar di Masjid al-Azhar. Masjid al-Azhar tetap menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Tercatat beberapa ulama besar dilahirkan di masa transisi itu, salah satunya Abdul Lathif al-Bagdadi yang merantau ke Mesir dan  yang akhirnya menjadi ulama yang mendapat kehormatan mengajar di al-Azhar pada masa Raja al-Aziz, putra Shalahuddin al-Ayubi.
Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar