Menghafal Pelajaran Dengan Peta Pikiran

Apa anda suka menghafal pelajaran? Saya yakin siapa pun orang itu, rata-rata tidak suka menghafal pelajaran. Tapi di zaman sekarang ini, setelah muncul sistem-sistem pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi. Kitar terpaksa dan juga dipaksa untuk menghafal pelajaran.

Menurut saya, kemampuan kita dalam menghafal memang berbeda-beda. Saat saya masih di Gontor, saya mulai menyadari itu. Walaupun kami ditempatkan di tempat yang sama, makan makanan yang sama, mandi di tempat yang sama, dan juga diajar oleh guru yang sama, ternyata hasil ujian atau nilai yang kami dapat berbeda. Mengapa bisa begitu?

Ada banyak faktor tentunya. Rata-rata saya lihat mereka yang anak guru atau anak dosen seperti saya contohnya memiliki basic yang cukup kuat untuk menghafal. Namun ada juga teman saya yang menurut saya cukup jenius dalam menghafal. Ketika dia dan saya menghafal bahan pelajaran yang sama-pelajaran sejarah sastra arab waktu itu- dalam waktu yang sama, saya kalah cepat, bahkan sebelum saya bisa menjelaskan isi bacaan saya, dia sudah mampu membacakan isi bacaan itu lengkap dengan syair-syairnya yang dia sendiri mengaku belum tahu pasti artinya. Dan dia bukanlah anak dosen atau pun anak guru. Saya kurang tahu pasti pekerjaan ayahnya, namun pengalaman saya dengan teman saya yang sangat cerdas dalam menghafal ini memastikan bahwa teori semua anak yang cepat menghafal itu berasal dari keturunan guru patah sudah.

Menghafal sebenarnya memerlukan pembiasaan, dan juga kesabaran. Karena menghafal memang membosankan. Dan menghafal juga membutuhkan waktu. Karena hafalan dalam hidup ini dibagi dua:
1. Hafalan jangka pendek
2. Hafalan jangka panjang

Sebenarnya, menghafal pelajaran tergolong dalam hafalan jangka pendek dan karena itu, menghafalnya tidak selama dan sesulit menghasilkan hafalan jangka panjang.

Saya beberapa kali ditanya tentang cara saya menghafal, dan saya selalu kembali lagi menjelaskan tentang peta pikiran. Ya, saya memang sangat suka dengan peta pikiran. Peta pikiran menyederhanakan semua cerita dan menghubungkan semua data menjadi satu. Dan ternyata otak kita memang tidak akan kuat menghafal huruf-huruf yang teratur sama bentuknya. Otak akan jauh lebih mudah menerima bentuk-bentuk dan gambar-gambar, inilah yang membuat otak kita akan bekerja jauh lebih dahsyat bila informasi yang kita hafal bebentuk peta atau gambar.

Pengalaman saya dengan peta pikiran dimulai saat saya kelas 6 di Gontor, setingkat kelas 3 smu. Kala itu saya membaca sebuah buku tentang peta pikiran di perpustakaan organisasi pelajar. Pertama-tama saya mengaplikasikan peta pikiran ini untuk pelajaran insya' atau composition dalam Bahasa Inggris, dan hasilnya karangan Bahasa Inggris saya mendapat nilai A beberapa kali.

 Kemudian saya mengaplikasikan peta pikiran itu dalam ujian-ujian saya di kelas 6 tersebut, dan hasilnya alhamdulillah, saya mendapat nilai mumtaz atau excellent
Demikian juga di al-Azhar, saya kembali menggunakan peta pikiran ini dan hasilnya cukup lumayan, tingkat satu saya dapat predikat jayyid jiddan, nilai saya paling besar di jurusan saya. Dan di tingkat dua saya mendapat predikat jayyid. Tingkat tiga ini belum keluar nilainya, dan saya berdo'a semoga nilainya bagus, amin.

Peta pikiran memang ilmu yang sangat powerful, anda bisa buktikan sendiri. Silakan baca bukunya dan lihat videonya

link e-booknya: map your mind pdf.
video presentasinya:






Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar