Wisma Nusantara dan PMIK


Dalam beberapa hari ini saya mendapatkan pengalaman berharga. Bermula dari diajaknya saya oleh kawan dekat saya, Eka Wahyu untuk makan malam di salah satu warung makan indonesia di Kairo. Dalam pertemuan itu kawan saya ini kemudian bercerita tentang keinginannya untuk pulang ke Indonesia. Eka memang seseorang yang menurut saya spesial. Dia beberapa kali satu kelas dengan saya di Pondok dulu, dan dia juga sempat satu kamar dengan saya ketika mengabdi di Gontor 9. Eka menurut saya adalah orang yang memiliki skill adaptasi yang luar biasa. Setahun yang lalu saya juga sempat meminta kesediaannya untuk menjadi Pemimpin Redaksi Majalah La Tansa, majalah bulanan IKPM Kairo. Dan kali ini Eka khusus berbicara dengan saya untuk menggantikannya menjadi Sekretaris Wisma Nusantara dan sekaligus menjadi salah satu staff PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo).

Malam itu Eka juga mengutarakan niatnya untuk melancarkan program digitalisasi di PMIK. Sesuatu yang besar bagi kami Mahasiswa Indonesia di Kairo, karena memang program digitalisasi membutuhkan dana dan perjuangan yang tidak mudah mengingat PMIK adalah perpustakaan sederhana yang tidak mendapatkan bantuan langsung dari Pemerintah Indonesia, walaupun masih mendapat banyak bantuan dari KBRI.

Saya lantas menyetujui tawaran Eka, Eka juga menawarkan saya untuk menjadi staff permanen Wisma Nusantara kalau saya mau, setelah menjadi penanggung jawab sementara sebagai sekretaris, saya bisa mendaftar untuk menjadi pengurus permanen. Namun saya masih belum memastikan hal tersebut karena saya sendiri masih mau melihat dulu, seperti apakah rasanya menjadi pengurus Wisma Nusantara.

Wisma Nusantara adalah sebuah bangunan yang berbentuk seperti apartemen. Dia memiliki lima lantai, dan bangunan ini seluruhnya beserta tanah-tanahnya sudah menjadi miliki Orang Indonesia. Wisma ini pertama kali berdiri diresmikan oleh Presiden Ketiga RI, BJ Habibie yang juga merupakan penyalur bantuan dari Yayasan ICMI Indonesia.

Wisma ini memiliki sejarah juga, dahulu wisma ini dijadikan asrama tempat tinggal mahasiswa. Namun ternyata ketidakdisiplinan Mahasiswa Indonesia ketika itu yang terlambat membayar iuran, dan kurang memperhatikan kebersihan membuat Wisma Nusantara menjadi tempat yang kotor dan krisis karena tidak mampu menutup pengeluarannya yang besar, baik pajak maupun listrik.

Akhirnya terjadi perubahan dalam penggunaan Wisma Nusantara yang juga dikarenakan meningkatnya jumlah Mahasiswa Indonesia di Mesir yang tentunya tidak mampu ditampung oleh Wisma. Kelak wisma pun berubah menjadi pusat kegiatan organisasi-organisasi besar Mahasiswa Indonesia di Mesir, seperti PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir) Wihdah (Persatuan Mahasiswi Indonesia), dan juga ICMI Orsat Kairo. Dan Wisma juga menyewakan kamar-kamarnya sebagai Losmen bagi tamu-tamu Indonesia yang singgah di Mesir. Terdapat pula sebuah aula yang yang menjadi tempat perkumpulan Mahsiswa. Juga terdapat PMIK sebagai perpustakaan pusat yang menyediakan buku-buku referensi bagi Mahasiswa yang membutuhkan.

Alhamdulillah, saya mendapat banyak pengalaman selama sekitar satu bulan lebih menjadi pengurus PMIK dan Wisma Nusantara. Saya baru menyadari banyaknya buku bagus yang ada di PMIK. Termasuk buku-buku yang saya cari-cari pdfnya di Internet ternyata tersedia di PMIK. Seperti biografi BJ Habibie, Biografi Soeharto berBahasa Inggris, hingga beberapa koleksi buku Robert Kiyosaki. Di PMIK juga terdapat begitu banyak buku-buku sejarah berkualitas. Mulai dari Penciptaan alam semesta hingga masa Khilafah Usmaniyah. PMIK juga menyediakan beragam novel best seller dan bacaan lepas yang berkualitas. PMIK sekarang juga telah dilengkapi dengan wifi yang dibeli beberapa minggu setelah saya menjadi pengurus. Dan Website PMIK juga menjadi salah satu tugas saya sebagai bagian Public Relation, yang juga merupakan hal penting yang Eka minta dari saya untuk diaktifkan.

Saya juga mendapatkan kawan-kawan baru di Wisma Nusantara dan PMIK. Ada yang asal Medan, Aceh, Padang, Riau, Sunda, hingga Madura. Ada yang laki-laki dan tentu saja perempuan. Di Wisma Nusantara saya juga menjadi sekretaris. Memang lebih berat menjadi staff wisma. Menjaga kunci-kunci dari atas hingga bawah, mengontrol tamu yang keluar masuk, menjaga keamanan wisma di tengah-tengah kondisi ekonomi mesir yang tidak stabil memang merupakan tugas tanggung jawab yang besar. Saya sendiri merasa belum tergerak untuk melanjutkan tanggung jawab sebagai pengurus wisma, karena masih ingin fokus pada kuliah, belajar, dan menjaga hafalan qur'an. Saya juga merasa bahwa saya kurang siap untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugas staff wisma yang tidak sedikit itu.

Eka sudah kembali ke Kairo, dengan beragam cerita petualangannya menjelajahi pulau jawa. Mengajukan proposal permohonan sumbangan buku dari satu penerbit ke penerbit yang lain, termasuk mencari tambahan dana ke pejabat-pejabat di berbagai daerah. Eka dan Ust. Mukhlis (Kepala PMIK) pulang bersama dan mereka berdua pulalah yang berjuang mengumpulkan buku demi buku dan rupiah demi rupiah untuk bisa bertahan hidup di pulau jawa, sekaligus meluangkan waktu untuk magang di Perpusnas, Jakarta. Alhamdulillah, semua rencana bisa dijalankan walaupun banyak cobaan dan kekurangan. Mudah-mudahan pengalaman-pengalaman ini bisa mendidik kita untuk menjadi Hamba Allah yang lebih baik. Dan tentunya saya senang juga Eka kembali ke Kairo karena dia membawa salah satu buku yang saya cari-cari sejak dulu: Api Sejarah... :D
Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar