DELAPAN KIAT BISNIS T. P. RACHMAT


Setiap entrepreneur mempunyai jurus masing-masing sesuai dengan latar belakang, pengalaman, kematangan, usia serta pengalaman hidupnya. Bagaimana kiat bisnis T.P. Rachmat yang justru mulai menjadi entrepreneur di usia 55 tahun. Berikut jurus-jurus Teddy.

1. Cari “angin” yang besar untuk memilih bisnis yang akan ditekuni.

    Ibarat main layangan, harus mencari angin yang kuat. Kalau tidak, layangannya tidak akan naik. Kalau anginnya hanya sepoi-sepoi, layangannya tidak akan kemana-mana. 

2. Ciptakan keunikan bisnis yang dipilih.

    Kalau keunikan itu tidak diketemukan, maka bisnis Anda tidak akan kemana-mana. Ia hanya akan menjadi pemenang kalau punya keunikan. Misalnya, perusahaan saya, ASSA Rent. Keunikannya sederhana sekali. Dalam bisnis rental mobil, keuntungannya bukan pada waktu menyewakan kendaraan ke pelanggan, melainkan pada waktu menjual kembali mobil yang dimiliki. Kalau resale value mobil kami paling tinggi, maka keunikannya adalah dengan melakukan perawatan yang paling sempurna. Keunikan kedua adalah kemampuan memberikan customer satisfaction.

    Contoh lain adalah Lion Air yang memiliki keunikan berupa memiliki pesawat-pesawat terbang baru, tetapi harga tiketnya paling murah. Dalam usia tergolong muda, Lion Air kini bisa menguasai pasar. Mungkin sekarang jumlah penumpang lebih banyak dibanding pesaingnya. Air Asia juga punya keunikan efisiensi karena hanya menerbangkan satu tipe pesawat tertentu dan memilih terbang dalam jarak tidak lebih dari 4-5 jam sehingga pesawatnya bisa terbang dua-tiga kali sehari dan harga tiketpun bisa diturunkan.

3. Leveraging dari keunikan bisnis yang dipilih.

    Harta datang salah satunya dari leveraging. Geber habis-habisan bisnisnya setelah mempunyai keunikan atau keunggulan. Kalau perlu sampai kompetitor mati. Sampai pernah saya bercanda kepada salah satu direksi saya, bahwa Anda belum melakukan pekerjaan dengan baik apabila belum sampai dipanggil Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Namun, Anda tidak perlu baku hantam dengan kompetitor kalau Anda bisa memaksimalkan keunggulan bisnis Anda.

    Misalnya, Grup Astra. Hampir di semua bidang bisnis yang mereka geluti, mereka dalam posisi nomer satu, baik itu di bisnis mobil, motor, jasa keuangan, maupun peralatan berat. Itu karena mereka menciptakan keunikan dan melakukan leveraging keunikan itu. Alhasil, kapitalisasi pasar dari saham Astra adalah yang terbesar di Indonesia. 

    Begitu pula ketika saya membangun Grup Adira. Filosofinya juga sama, yaitu menciptakan keunikan, yaitu kuat dalam hal funding. Financial services tanpa funding yang kuat tidak akan pergi kemana-mana. Maka, tak heran kalau sekarang Adira saya lepas karena saya melihat  saya sudah tidak sanggup menjaga kekuatan funding Adira, sehingga kami jual ke Bank Danamon karena bank memiliki kekuatan funding. Jadi, lupakan hal-hal yang tidak penting. Apa yang membuat Anda berbeda, itulah yang harus digenjot. Sementara itu, kompetitor lain mungkin timbul tenggelam

4. Lakukan eksekusi dengan baik dan benar.

    Eksekusi adalah segalanya. Eksekusi mencakup people, proses, dan transparansi, serta kepemimpinan yang baik. Tanpa itu, bisnis Anda tidak akan kemana-mana.

5. Carilah orang bertalenta.

    Saya dalam mencari orang selalu adalah orang yang bertalenta. Saya tidak mencari orang yang paling berpengalaman atau yang paling pintar, saya cari talenta yang paling baik. Dalam merekrut orang, prinsip saya sederhana, orang itu berkarakter, memiliki passion, dan cukup pintar. Orang seringkali mencari yang paling pintar dahulu, tetapi buat saya tidak. Saya justri melihat karakternya dahulu dan kemudian kemauannya. Orang walau tidak pintar sekali, tetapi kalau punya kemauan tinggi dengan tanya kiri-kanan, ia juga bisa handal dalam menjual produk. Apalagi pekerjaan di Indonesia tidak begitu kompleks.
    Bila sudah memiliki bibit atau talenta yang baik, maka kita harus mencarikan tanah yang subur supaya bibit itu bisa menjadi pohon yang kuat. Tanah yang subur itu antara lain recognizing, celebrating, dan appreciating. Tak kalah penting juga soal reward atau kompensasinya. Namun, tidak hanya masalah salary yang harus memadai, tetapi kita juga harus bisa memberikan career opportunity, environment kerja, atmosfer kerja, dan pride atau kebanggaan bekerja di perusahaan kita. Anda harus menyentuh dia, tidak cukup dengan uang karena kalau ada yang berani memberikan gaji lebih tinggi, dia akan segera pindah.

6. Mengutamakan membangun proses, bukan berorientasikan hasil semata.

    Manajemen perusahaan pada dasarnya adalah masalah proses. Kalau prosesnya baik, maka hasilnya juga baik. Orang Toyota mengajarkan kalau semua sekrup dipasang dengan baik, maka mobil itu akan berjalan dengan baik. Jangan terlalu mengejar hasil atau result karena hasil bisa saja karena kebetulan atau keberuntungan karena “angin” lagi kencang, sehingga profit besar. Padahal, Anda tidak bisa mengontrol profit, yang bisa Anda kontrol adalah prosesnya. 
    Untuk itu perlu standarisasi. Lihat saya pelayanan pramugari Singapore Airlines yang punya standar untuk jongkok bila berbicara dengan penumpang pesawat kala terbang. Jadi, keunikan bisnis yang kita miliki juga harus dibuat standarnya.
    Ada perkataan bagus dalam buku Jim Collins yang berjudul Great by Choice, yaitu fanatic discipline. Untuk membuat standar itu memang kita harus berkeringat dan berdarah-darah, demi mengejar kesempurnaan. Itu memang melelahkan, tetapi tanpa itu, kita tidak akan kemana-mana. Lihat Toyota yang terus mengejar berupaya mengurangi kesalahan pembuatan produk. Itu pasti sangat melelahkan.

7. Melakukan transparansi dan good governance.
 
    Kalau tidak transparan dan good governance, bisnis kita tidak akan sustainable. Kita bisa saja menang sesaat, tetapi tidak sustainable. Mungkin bisa menang terus, tetapi suatu bisa jatuh. Kalau kita tidak transparan, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Dan, itu pasti yang busuk. Misalnya bayarlah pajak dengan penuh, bayar lebih pun tidak apa-apa. Tetapi, dengan transparansi, segala borok bisa keluar semua.

8. Menjalankan kepemimpinan yang baik.

    Kesemua hal di atas tentu dijalankan oleh pemimpin. Menurut saya, menjadi pemimpin yang baik itu sederhana, berusaha memberikan contoh. Khalifah Umar bin Khattab memberikan nasehat, bila maju perang, pemimpin paling dulu, tetapi kalau makan, paling belakang. Itulah pemimpin. Saya juga kagum dengan keberhasilan Lee Kuan Yew dalam membesarkan Singapura seperti sekarang. Menurut saya, itu karena mereka tidak pernah puas dalam membangun negaranya. Ketika memisahkan diri dari Malaysia, pendapatan Singapura
hanya seperempat dari Malaysia, tetapi sekarang jauh lebih besar. Bahkan, pendapatan per kapita mereka sekarang nomer dua terbesar di dunia. Padahal, Singapura adalah negara yang tidak punya apa-apa. Itu karena mereka memiliki mimpi yang tidak terbatas dan tidak pernah bilang cukup, bukan dalam artian cukup buat diri sendiri, tetapi cukup buat semua. ###

(redaksi@wartaekonomi.com)

Foto: Sufri Yuliardi

Sumber: Warta Ekonomi No.04/2012

Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar