GU Atas

Gedung Utama Gontor 2 dilhat dari depan

GU adalah singkatan dari Gedung Utama. Gedung ini adalah wajah Gontor 2. Sebagaimana kawan-kawanku yang lainnya, aku tinggal di gedung ini selama beberapa bulan selama menjalani persiapan menghadapi ujian masuk Gontor. Gedung ini terdiri dari dua lantai. Di Lantai satu sebelah utara ada beberapa ruangan yang digunakan untuk kantor guru, ruang kelas, dan ruang penampungan orang sakit. dan di Lantai dua sebelah utara ada kamar-kamar santri dan dipisahkan dengan tangga di sebelah selatan lantai dua terdapat beberapa kelas dengan sebuah sekat yang bisa dibuka, kelas-kelas tersebut akan menjadi aula ketika sekat-sekatnya dibuka.

Di GU atas ini kami memiliki Musyrif Maskan atau pembimbing asrama atau Ustadz-ustadz yang juga tinggal berdampingan kami. Para Musyrif tinggal di kamar pojok yang berdekatan dengan tangga. Di Gontor dua Ustadz memang tidak terlalu sering turun ke anggota, tetapi ketika itu Ustadz memang memainkan peran penting dalam kehidupan kami, dari Ustadz kami mendapat contoh, bimbingan, inspirasi, dan motivasi. Di Rayon (asrama) kami ini aku sangat ingat dengan Ust. Jupri. Ustadz Jupri berasal dari Kalimantan. Ust. Jupri hafal 15 juz al-Qur'an dan juga pandai bermain organ. Yang aku ingat dari beliau adalah ketika beliau mengatakan bahwa beliau sedang bingung memilih antara beasiswa di Leiden University Belanda atau di Madinah University, pilihan yang sangat menarik, hehehehe... Benar-benar pilihan yang mengagumkan bagi kami yang bahkan masuk Gontor pun belum.

Di GU inilah aku bertemu teman-teman baru. Dan hari pertama aku beraktifitas sungguh berkesan, karena hari itu terasa begitu melelahkan..., sangat melelahkan. Aku baru merasaan bagaimana rasanya harus terbangun pukul 4 pagi sebelum shubuh aku tidak dibangunkan, aku terbangun mendengar murottal al-Qur'an yang dipasang dengan kencangnya. Terlihat di sekelilingu orang-orang mulai bangkit dan berganti pakaian dengan pakaian sholat. Dan dari situ kami berjalan terburu-buru menuju masjid. Sudah ada Ustadz yang berdiri di tengah jalan memotivasi kami untuk bergegas. Dan begitulah setiap pagi aku menjalani pagi di hari-hari biasa.

Di Pondok Gontor 2 ini pula aku pertama kali belajar mencuci baju sendiri. di Gontor 2 kita terbiasa mencuci di hamam (kamar mandi) di depan asrama kami yang merupakan bangunan yang terpisah dari asrama. Di sana berjejer kamar mandi-kamar mandi cukup banyak dan di depan kamar mandi tersebut terdapat paralon-paralon dari besi yang dibuat membentang setinggi pinggang. Dari paralon itu keluar air dari lubang-lubangnya, dan dari air yang keluar itulah kami mencuci baju. Satu hal yang aku ingat dari pesan ibuku adalah: "Jangan lupa cuci baju setiap hari!". Hm... Aku memang orang yang tidak mau ambil pusing dengan nasihat orang tua, biasanya akan langsung aku kerjakan tanpa berfikir lagi. Dan aku pun mencuci baju setiap hari. Ada seorang kawan sekamarku bernama Romi, dia berasal dari Jombang, dan ketika melihatku membawa ember dan mencuci setiap hari, dia terheran-heran. Sepertinya memang cuma aku yang ketika itu mencuci baju setiap hari.

Satu hal yang aku tidak tahu kala itu adalah bahwa baju kemeja harus dibuka dahulu kancingnya sebelum dicuci. Dan karena itulah kemejaku yang sudah dicuci akhirnya lepas kancingnya satu persatu. Aku ketika itu menyikapinya dengan memakai peniti, dan memang akhirnya cukup rapih, namun memang aku akui salah satu kemejaku sampai hanya menyisakan satu buah kancing, dan sisanya aku menggunakan peniti :D

O iya, di Gedung Utama ini kami tinggal bersama sekitar 30-40 orang satu kamar. Aku baru menyadari bahwa manusia bisa demikian fleksibel. Tanpa ranjang, tanpa bantal, dan kami tidur dengan nyenyak setiap harinya. Bagi kami kala itu, tidur adalah sebuah kemewahan. Aktifitas yang padat dihiasi dengan lari ke sana dan kemari dari sebelum shubuh hingga malam pukul 10 membuat kami sudah sangat bersyukur bahwa kami bisa tidur.

Percakapan menarik antara kami adalah ketika kami berebut untuk bisa piket menjaga asrama. Kami begitu senang dan semangatnya menjaga asrama dan tidak mengikuti aktifitas seperti biasa, hanya karena dengan menjadi penjaga asrama kami bisa mendapatkan waktu untuk tidur tambahan :D.
Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar