Pergi Ke Gontor 2


Saya harus berangkat menuju Ponorogo Jawa Timur. Umur saya ketika itu sekitar 15 tahun, dan waktu itu tahun 2004. Bisa dibilang cukup besar dan bisa dibilang cukup kecil. Aku saat itu memutuskan untuk mondok di gontor. Keputusan yang menurutku sendiri sangat frontal. Jangankan aku, orang tuaku pun kaget mendengar keputusanku ini. Aku juga tidak bisa menjelaskan dengan spesifik tentang motivasi apa yang mendorongku untuk pindah dari Ciputat yang secara kehidupan lebih kota ke Madusari Ponorogo, yang secara kehidupan lebih kampung.

Saya sebenarnya sudah sering ke Ponorogo. di Ponorogo ada Mbah Tur, Mbah Tur adalah tante dari bapakku, dan hampir setiap tahun di saat pulang kampung ke Ngawi, Bapak dan Kami sekeluarga selalu menyempatkan mampir ke tempat Mbah Tur. Dan kali ini setelah mampir ke tempat Mbah Tur, kami pun bergerak menujur Gontor 2. 

Gontor dua kala itu terlihat cukup keren bagiku. Saat terakhir kali aku ke gontor adalah ketika Mas Aaf kakakku ingin masuk Gontor, sekitar tahun 1999. Dan pada tahun itu, gontor 2 belum dibangun, dan kami akhirnya mengunjungi gontor 1 di daerah Mlarak yang tidak terlalu jauh dari posisi gontor 2 ini. Kala itu Gontor memang belum punya cabang. Dan Gontor 1 adalah satu-satunya Gontor di Indonesia kala itu. 

Gontor 2 Dibangun sebagai tempat penampungan Calon-Calon Santri baru yang di dalamnya mereka akan dibina, diberi pelajaran-pelajaran untuk mempersiapkan diri mereka menghadapi kehidupan di pondok dan untuk melewati ujian.

Aku berangkat diantar oleh Mbahku, Mbah atung, Mbah atung adalah sebutan kami untuk kakek kami yang dari Ibu. Kala itu keluargaku belum punya mobil. Jadi kami pergi naik mobil milik Mbah Atung. Mobil kijang baru sekitar tahun 2000an, warnanya merah. Bersamaku di dalam mobil ada Ibuku, Bapakku, Adikku Mila, dan kakakku yang laki-laki, Mas Aaf. Aku kurang ingat apakah kakakku yang perempuan ikut atau tidak.

kami pun memasuki gerbang Gontor dua. Kami disambut oleh dua penjaga gerbang yang terlihat masih seumuran denganku. mereka berseragam pramuka, kelihatannya mereka adalah santri gontor dua yang ditugaskan menjaga gerbang. Kami pun diarahkan menuju tempat parkir yang sudah disiapkan di lapangan bagian tengah pondok. Mobil kami pun memasuki wilayah gontor. Terlihat di kiri dan kanan bangunan cukup megah dua lantai. Di kanan dan kiri terlihat santri berjalan terburu-buru. Sebagian menggunakan sarung dengan baju dimasukkan ke dalam sarung, dan sebagian menggunakan celana. Semua baju rapih dimasukkan ke dalam celana, pemandangan yang cukup langka di sekolahku dulu. Lebih dari itu kulihat sekilas semua santri memiliki potongan rambut yang sama, cepak ala militer, mantap.

Kesan pertama kala memasuki Kampus Gontor dua cukup menggoda. Aku rasa pondok ini bukan pondok biasa. Fisik bangunan, dan santri-santrinya mengeluarkan aura semangat yang membuatku penasaran. Di dinding-dinding bangunan kulihat berbagai kata-kata mutiara. "Ilmu adalah pusaka yang utama", "hidup sekali hiduplah yang berarti", "ke gontor apa yang kau cari". Wah, filosofis sekali...

Kami lantas berjalan menuju tempat pendaftaran. Aku duduk bersama Bapak dan Ibuku. Aku hanya duduk, bapak dan ibuku yang menguruskan registrasi pendaftaran baik itu pembayaran, syarat-syarat berkas, dan lain sebagainya. Saudara-saudaraku yang lainnya berjalan ke sekitar pondok melihat suasana yang memang seperti dunia lain. Mungkin bisa dibilang kampung buatan, yang unik. Aku hanya terdiam, aku merasakan takut yang tidak bisa aku hindari. Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang ada di sini.

Ketika aku di Tsanawiyah aku hanya merasa kehidupan dan pendidikanku begitu-begitu saja, terlalu mudah dan gampang. Aku memang mencari tantangan baru yang bisa membuatku lebih kuat, lebih berani, dan lebih siap menghadapi masa depan yang lebih cerah. Aku memang tidak terlalu pintar, tapi aku tidak mau seperti anak-anak sekolah biasa yang terbiasa dengan hiburan-hiburan dan pergaulan yang tidak baik. Jauh di dasar hatiku, aku hanya ingin hidup menjadi orang islam biasa yang sederhana, namun terjaga dari kerusakan, dan mungkin di pondok inilah aku bisa mendapatkan hal itu. Mungkin tidak semua, tapi setidaknya aku sudah berusaha menuju itu, dan kini aku harus menghadapi pilihan ini.

Aku diantar menuju kamarku. kamarku begitu sederhana. Dia terlihat seperti sebuah kelas. Di pinggir-pinggirnya terdapat kotak-kotak lebari setinggi 1x1.5 meter, itulah lemariku. Di dalam lemari itu aku masukkan baju-baju dan buku. Aku pun diberi sebuah papan nama. Papan nama ini harus dipakai terus, demikian arahan dari ustadz. aku pun harus memasukkan bajuku ke dalam celana ketika aku keluar ruangan. Hal ini untuk membedakan antara kami para santri dengan ustadz. Ustadz adalah sebutan bagi guru kami di pondok ini. Ustadz-ustadz yang mengajar dan membimbing kami semuanya adalah alumni Gontor yang sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi santri, dan mereka harus mengabdi sebagai guru pengajar minimal selama satu tahun, baru setelah itu mereka boleh mengambil ijazah dan melanjutkan pendidikan mereka.

Aku diberi sebuah kasur, kasur ini hanya disewakan dan akan dikembalikan ketika aku sudah lulus dari gontor dua dan menjadi santri. Di kamar ini aku melihat ada seorang santri lagi, kulitnya agak gelap, dan giginya sangat putih, hehehe. Dia terlihat kalem dan sering tersenyum. Dia adalah Arifin. Arifin datang dari jauh, rumahnya di Sorong Papua. Dia sudah tiba di Gontor 2 sekitar 4 bulan sebelumnya. Tentunya dia lebih tahu bagaimanakah cara menjalani kehidupan di pondok ini.

Aku berkenalan sekilas dengan Arifin, dan kemudian kembali lagi menemui orang tuaku. Aku bersalaman dengan semuanya, mecium tangan ibuku, Ayahku, kakek dan nenekku, dan juga saudara-saudaraku. "Baik-baik ya...", kata ibuku. Aku hanya tersenyum. Rasanya.... seperti sesak di dadaku. Aku tidak pernah jauh dari orang tuaku sejak kecil. Kali ini aku bukan hanya jauh, jarak yang memisahkan kami adalah 15 jam perjalanan darat. Dan aku bisa bertemu mereka setelah beberapa bulan menjalani pendidikan di pondok ini.

Mereka sudah pergi! Mobil kijang merah itu menjauh, kini aku tinggal seorang diri di pondok yang cukup besar ini. Pondok ini masih sepi, kelihatannya santri-santri yang sudah datang adalah mereka yang memiliki semangat belajar cukup tinggi, sampai-sampai mereka sudah datang sebelum pondok ini ramai dengan penghuni. Dan mulai saat itu petualanganku di Gontor 2 pun dimulai...



Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar