Walking around Cairo part I

Singkat cerita, akhirnya saya pun tiba di kairo. Saya tinggal bersama mahasiswa-mahasiswa lain dari Indonesia. Jumlah kami saat itu 6 orang di satu rumah. Dan rumah saya berada di daerah Hay 'Asyir. Hay 'asyir adalah suatu kawasan di daerah Nasr City sebelah timur kota kairo. Saat ini mayoritas mahasiswa indonesia tinggal di daerah ini. Dan di daerah inilah kita akan menemukan rumah-rumah kekeluargaan persatuan per daerah, markas-markas almamater, rumah-rumah organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah, NU, maupun  senat mahasiswa indonesia seperti senat mahasiswa fakultas Bahasa Arab yang saat itu, markas senat mahasiswa fakultas bahasa arab berada di rumahku.

Rumahku dekat dengan restoran-restoran indonesia, dekat dengan almamaterku, IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern), dekat dengan masjid, dekat dengan penjual-penjual sayuran, toko-toko, tempat fotokopi, dan lain sebagainya. Menurut Mas Budi yang saat itu sebagai ketua senat, rumah ini memang sangat strategis dan cocok untuk rumah organisasi.

Tanpa kami prediksi sebelumnya, ternyata kedatangan kami sudah terlambat, dan kami tidak bisa langsung ikut ujian masuk atau pun ikut kuliah. Karena ujian masuk yang biasanya diadakan pada bulan maret dan bulan september sudah terlewat dua-duanya. Sedangkan kami baru tiba di Kairo pada Bulan Desember. Akhirnya kehidupanku diisi dengan internetan, kemudian tahfizh al-Qur'an, memperdalam bahasa arab di Dauroh Lughoh atau pelatihan bahasa arab yang diadakan oleh Al-Azhar untuk kami mahasiswa-mahasiswa yang belum ikut ujian masuk.

Dan di sela-sela waktu, aku pun rihlah jalan-jalan. Oiya, begitu banyaknya organisasi mahasiswa indonesia di Mesir juga membuat jadwal kita dipenuhi dengan acara-acara yang diadakan oleh organisasi tersebut. Salah satu kegiatan yang rutin diadakan setiap tahun oleh organisasi-organisasi adalah ORMABA atau Orientasi Mahasiswa Baru. Saat anak baru, saya mengikuti ORMABA  yang diadakan oleh IKPM, Senat Bahasa Arab, dan NU.

Namun ORMABA yang paling saya ingat dan masih ada beberapa dokumen fotonya adalah ORMABA IKPM. Dalam ormaba ini, kita diajak untuk jalan-jalan mengelilingi Kairo. Kita ditemani oleh seorang senior, dan dijadwalkan harus tiba di taman al-Azhar pada waktu shalat ashar atau pukul 4 sore, dan yang terlambat akan mendapat hukuman.

ini kelompok kami, berpose di depan gedung tempat flat IKPM saat itu
Kami ketika itu sekitar enam orang ditambah seorang senior, Mardi Hadi bersiap-siap menjelajah kota Kairo dalam satu hari, ongkos sudah disiapkan, arahan-arahan sudah diberikan, rute kami adalah ke masjid Sayyidah Zainab, museum Qasr Abidin yang dulu merupakan istana negara Mesir di masa Daulah Utsmaniyah, dan dari situ ke Duwaiqah dan terakhir ke taman al-azhar

peta dibentangkan, kira2 kita bakal lumayan gempor hari ini, siapkan otot betis anda

Beginilah suasana di sekretariat IKPM sebelum keberangkatan, kita dibagi perkelompok. setiap kelompok sekitar 5-7 orang, rame banget nih di rumah ikpm, sekitar 30 orang berngkat pagi itu
Kami pun berangkat. Suasana jalan di Kairo sebenarnya lebih lenggang daripada di Ibu Kota jakarta yang macetnya sangat di luar akal sehat. Namun hal yang aku temui di Mesir adalah ketidak teraturan lalu lintasnya yang juga di luar akal sehat. Mobil-mobil mundur di jalan raya sangat mudah kita temui. Jarang pula kami temui lampu merah di Kairo, kebanyakan mereka mengandalkan petugas polisi untuk mengatur lalu lintas, untuk memberhentikan satu jalur dan menyuruh jalan jalur yang lain.

Satu hal yang saya ingat ketika itu adalah kejadian yang sangat mengagetkan dan menyentuh hati, singkat cerita di dalam angkutan yang sempit dan berwarna putih yang oleh mahasiswa indonesia biasa disebut tramco naiklah seorang bapak-bapak, pak sopir jalan begitu saja sebelum sang bapak sempat menyeimbangkan dirinya, akibatnya sang bapak jatuh terguling, alhamdulillah sang bapak tidak apa-apa, dia pun bangkit dan marah-marah kepada si sopir.

Setelah naik angkot dua kali, satu kali ke terminal darrosah dan yang satu lagi ke sayyidah zainab, akhirnya kami tiba di Masjid Sayyidah Zainab. Masjid ini memiliki disain yang cantik, klasik, berwarna coklat kekuningan khas Mesir. Masjid ini adalah salah satu masjid bersejarah di Kairo, di dalamnya terdapat makam salah satu cucu Rasulullah SAW, Sayyidah Zainab

Ini dia, mesjid yang dibangun berabad2 silam, masjid siti zaenab, dulu di sini pernah tinggal seorang cucu nabi, siti Zaenab
suasana di dalam mesjid, arsitekturnya khas mesir

mission one completed, sukses nyampe sayyidah zainab foto dulu gan..
Dari masjid Sayyidah Zainab kita bergerak menuju museum abdin palace. Museum ini cukup murah masuknya sekitar 10 pon untuk pelajar asing, dan sekitar 30 pon untuk turis asing. Di dalam musium ini kita melihat koleksi kenegaraan milik Mesir yang diberikan oleh negara-negara sahabat, ada pula sebuah kaligrafi di dalam musium ini yang merupakan hadiah dari presiden SBY untuk Husni Mubarok. Namun sayang kamera dilarang masuk jadi aku hanya bisa mengambil foto dari luar, never mind, nice museum actually...


Dan selebihnya, kita jalan-jalan men....

suasana kairo di daerah sayyidah aisyah-sayyidah zainab
suasana pasar di babul khula'
Nuansanya bener-bener klasik
nah di pasar ini ada orang mesir berantem, ampe tonjok2an, tapi ga sempet dipoto
ini dia masjid azhar yang legendaris
suasana trotoar, di sebelah kanan adalah kampus azhar beginilah suasananya ketika kita berangkat ngampus
alhamdulillah mission complete, setelah nyasar-nyasar, kita akhirnya sampai di taman al-azhar yang asri dan segar izdiyan mana? moto :D
pemandangan kota Kairo dari atas taman al-azhar, Kota Seribu Menara
berpose dulu di depan Al-Azhar Park

Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar