Perang Dunia II (Part 3)




Hitler kini sudah menjadi Kanselir Republik Federal Jerman setelah malang melintang di Dunia Politik Jerman sejak tahun 1919 hingga setelah gagal memenangkan Pemilu Presiden, Hitler yang partainya mendominasi parlemen saat itu akhirnya dipercaya menjadi Kanselir Jerman pada 30 Januari tahun 1933. Dan seperti kita tahu, Hitler sebagai Kanselir belum memiliki kekuasaan yang mutlak, karena dia masih punya atasan yaitu Presiden Jerman terpilih saat itu Hindenburg, dan sebagai Kanselir Hitler juga harus mempertanggung jawabkan dan mengikuti peraturan dan undang-undang yang ditetapkan oleh Parlemen Jerman (Reichstag) yang belum dikuasai penuh oleh partainya. Maka langkah apakah yang kira-kira perlu dia lakukan untuk mengumpulkan kekuasaan di tangannya? Karena Hitler tahu bahwa Presiden Hindenburg yang saat itu sudah lanjut usia (80 tahun lebih), maka Sang Presiden tidak akan terlalu banyak menghambatnya dalam membuat keputusan-keputusan politik. Dan yang paling mungkin menghambat gerakannya adalah Reichstag. Karena partainya hanya memiliki 44% kursi, sehingga posisinya memang belum terlalu kuat untuk bisa memberikan kebebasan bagi Hitler untuk berkreasi.

Selang sekitar sebulan setelah Hitler berkuasa, tepatnya pada 27 Febuari 1933 terjadi sebuah kejadian penting yang membuat Hitler mulai bisa menampakkan taringnya. Kejadian itu adalah kebakaran yang terjadi di gedung Reichstag. Kebakaran ini tentu saja menimbulkan kegemparan di Jerman, bayangkan saja gedung DPR MPR RI kebakaran tentu saja seluruh rakyat Indonesia geger. Demikian pula yang terjadi di Jerman, dan langsung saja Pemerintah saat itu mengeluarkan pernyataan bahwa dalang dari kebakaran ini adalah tokoh-tokoh komunis. Akhirnya Hitler mendesak Presiden Hindenburg untuk membekukan undang-undang kebebasan warga negara, dan memberlakukan undang-undang khusus (enabling act of 1933). Enabling Act of 1933 ini adalah situasi khusus yang tertulis di undang-undang Jerman saat itu di mana Presiden dan Reichstag memberikan hak kepada Pemerintah yang dipimpin oleh Kanselir untuk melakukan tindakan apa pun yang perlu dilakukan untuk kebaikan Jerman tanpa perlu berkonsultasi ataupun meminta persetujuan dari Presiden dan Reichstag. Dan akhirnya pada tanggal 23 Maret dikeluarkanlah surat resmi tentang undang-undang khusus tersebut yang ditandatangani oleh Presiden Hindenburg dan Reichstag. Dan undang-undang khusus ini hanya berlangsung selama 4 tahun, kecuali bila diperbaharui oleh Reichstag. (akhirnya diperpanjang oleh Reichstag sebanyak dua kali)

Maka akhirnya undang-undang kebebasan warga negara pun dicabut. Hitler dan antek-anteknya akhirnya mulai bergerak, kurang lebih langkah-langkah menuju kekuasaan mutlak hitler adalah sebagai berikut:
1. Mengintimidasi dan meneror pegawai-pegawai negeri, dan tokoh-tokoh jerman yang tidak mendukung Nazi, dan mencopot orang-orang yang tidak pro nazi.
2. Melakukan operasi pisau panjang yang di sana dibunuhlah tokoh-tokoh militer penting di Jerman
3. Mengganti petinggi-petinggi militer dengan antek-antek SS (Pasukan Khusus Nazi)
4. Menghapus sistem pemerintahan federal di daerah-daerah, dan menjadikan Jerman Negara Kesatuan yang pemimpin setiap daerahnya dipilih langsung oleh Hitler
5. Melarang semua partai lain selain parta Nazi.

Dengan langkah-langkah di atas, maka terbukalah jalan bagi Hitler untuk menggenggam kekuasaan di Jerman secara total. Dan yang terjadi selanjutnya adalah meninggalnya Presiden Jerman terpilih kala itu yaitu Hindenburg. Dan akhirnya karena Reichstag sudah dipenuhi dengan orang-orang Nazi, dan orang-orang dari partai lain sudah tidak ada lagi, maka dengan mutlak seluruh anggota Reichstag sepakat agar Hitler diangkat menjadi Presiden Jerman dengan merangkap sebagai Perdana Menteri. Dan sejak itulah kekuasaan benar-benar mutlak jatuh ke tangan Adolf Hitler, dan sejak itu dia lebih lebih memilih dipanggil dengan "Fuhrer", "Sang Pemimpin". Semua langkah-langkah strategis ini diselesaikan dalam jangka waktu sangat singkat, yaitu sejak januari 1933 (saat pertama kali Hitler dilantik sebagai Kanselir) dan selesai pada Agustus 1934, saat dia dilantik sebagai Presiden Jerman.

Dengan kekuasaan yang begitu besar di Jerman akhirnya Hitler bisa dengan leluasa bergerak. Dan sebagaimana telah dia tulis di bukunya "mein kampf", dia sangat ingin melepas Jerman dari jeratan Perjanjian Forsay yang merendahkan martabat bangsa Jerman. Dia tidak ingin lagi Jerman dilemahkan dan dikerdilkan dengan perjanjian tersebut, butir-butir perjanjian tersebut yang sangat merugikan Jerman antara lain:
1. Dibatasinya jumlah angkatan perang Jerman agar tidak lebih dari 100.000 prajurit
2. Dilarangnya wajib militer di Jerman (wajib militer adalah rahasia Jerman mengalahkan Prancis pada tahun 1870)
3. Diserahkannya wilayah-wilayah jajahan jerman kepada negara-negara sekutu
dan masih banyak butir-butir lain yang sangat merugikan seperti diserahkannya tambah besi Jerman kepada Prancis, diserahkannya daerah Loren dan Alzas kepada Prancis, dan kewajiban membayar kerugian perang tentara sekutu yang jumlahnya ratusan juta poundsterling.

Karena situasi ekonomi Jerman pada saat itu masih lemah Hitler kemudian bekerjasama dengan para pengusaha untuk menciptakan lapangan kerja, Hitler juga berinisiatif membuka tempat jajahan atau koloni baru di daerah Rusia, yang dia sebut sebagai "living space" (dalam Bahasa Jerman Labensraum). Dan dengan demikian Jerman bisa mempersiapkan ketahanan pangan yang cukup bagi warga negaranya. Hitler juga memberlakukan wajib militer, mengaktifkan pabrik-pabrik senjata dan peralatan perang lainnya, seperti pesawat, kapal selam, perahu, dan peluru. Hitler menambah jumlah tentara dengan peningkatan yang sangat drastis, dari 100.000 prajurit, ditingkatnya menjadi 500.000 prajurit. Sebagaimana jumlah pasukan angkatan laut Jerman juga meningkat drastis dan hampir menyaingi Angkatan Laut Britania yang dianggap sebagai yang terkuat di Dunia saat itu.

Pada saat itulah Negara-negara sekutu khususnya Prancis mulai takut bahwa Jerman akan mulai bangkit dan mengancam keamanan wilayah di Eropa, dan sekitarnya. Tentu saja Jerman bisa memahami ketidak nyamanan Sekutu, Jerman akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa kekuatan militer Jerman tidak untuk memerangi Negara mana pun, Jerman hanyalah musuh dari Komunis, dan Jerman juga akan menurunkan kekuatan Angkatan Lautnya, hingga menjadi setengah dari Angkatan Laut Inggris. Dan akhirnya dengan pernyataan tersebut ketegangan bisa sedikit dikurangi.

Perkembangan selanjutnya adalah adanya kerjasama-kerjasama bilateral, atau kerjasama militer. Kala itu Jerman merasa perlu mencari partner untuk menjaga stabilitas keamanan wilayahnya, karena dia tahu bahwa Negara-negara Sekutu bisa kapan saja menyerang Jerman. Akhirnya muncul kerja sama yang akhirnya disebut Axis, kerjasama militer ini menciptakan sebuah kubu di Eropa yang terdiri dari Italia, Jerman, dan Austria. Dan munculnya kubu ini tentu saja merupakan pengulangan dari sejarah Perang Dunia I yang diawali dengan munculnya kubu-kubu politik, dan kubu-kubu tersebut seakan hidup kembali.

Musollini (Italia) dan Adolf Hitler
Sejak kekuatan militer Jerman meningkat drastis, dan nama Hitler santer terdengar di seluruh Eropa, parta Nazi pun semakin kuat pengaruhnya di Eropa. Partai Nazi muncul pula di Negara tetangga Jerman yaitu Austria. dan Partai Nazi yang memang berasal dari Jerman ini ingin agar Austria bersatu dengan Jerman karena mereka merupakan satu bangsa dan satu bahasa. Bahkan Hitler sendiri adalah orang Austria yang pindah ke Jerman, maka sudah seharusnya Austria bersatu dengan Jerman, dan orang-orang Austria pulang kembali ke tanah asal mereka yaitu Jerman. Austria sendiri bukanlah negara yang memiliki satu bangsa saja, di Austria ada minoritas bangsa Slavia dan Hongaria, walaupun Bangsa Jerman memang merupakan mayoritas. Partai Nazi akhirnya membuat keonaran di Austria, hingga keadaan Ibu Kotanya Vienna semakin gawat dan kian sulit dikendalikan. Hitler kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa Pasukan Jerman siap bergerak ke Vienna jika keadaan memang tidak bisa dikendalikan oleh Pemerintahan Austria.

Akhirnya Perdana menteri Austria kala itu memutuskan untuk mengadakan pemungutan suara, tentang seberapa banyak di antara rakyat Austria yang ingin bergabung dengan Jerman. Dan dia yakin bahwa jumlahnya tidak akan banyak. Mendengar berita tersebut Hitler takut kalau jumlah orang yang ingin bergabung ke Jerman sedikit, atau pemerintah Austria merekayasa pemungutan suara tersebut. Akhirnya Hitler mengumumkan bahwa pasukan akan bergerak memasuki Vienna dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, dan pasukan Jermanlah yang akan mengamankan pemungutan suara tersebut. Akhirnya masuklah pasukan Jerman ke Vienna, dan dikuasailah Ibu Kota Vienna oleh Pasukan Jerman, dan setelah hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa Rakyat Austria mayoritas ingin bergabung dengan Jerman, maka bergabunglah dua negara tersebut, dan jadilah Austria bagian dari Jerman. Hitler berhasil menambah kekuatan Jerman baik dari segi penduduk yang sekitar 7 juta orang, ditambah sumber-sumber ekonomi baik pabrik, tambang, dan pertanian, yang akhirnya menambah kekuatan Jerman secara umum, dan suasana di Eropa pun setelah itu semakin memanas...



Share on Google Plus

About izdiyan muttaqin

Saya adalah seorang pengajar, pembelajar, dan wiraswasta yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan motivasi, sejarah, ilmu keislaman, dan Bahasa Arab "anda bisa menghubungi saya" di presiden.izdiyan@gmail.com.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar